23 tahun membangun simbol cinta abadi

Kekaisaran Mughal berduka. Permaisuri Arjumand Banu Begum mangkat setelah melahirkan anak ke-14 mereka. Kaisar Mughal Shah Jahan begitu sayang dan cinta kepada permaisuri yang berasal dari Persia itu. Arjumand yang juga dikenal dengan nama Mumtaz ul Zamani meninggal dalam usia 39 tahun.

Pada suatu malam, kira-kira setahun sebelum mangkatnya Arjumand, Shah Jahan mendatangi pembaringan permaisurinya. Kaisar yang kekayaannya tiada terkira itu sangat menyayangi Arjumand.

“Dinda Mumtaz, mintalah sesuatu kepadaku dan aku akan mengabulkan permintaanmu itu.”

“Kanda, saya ingin dibuatkan sebuah makam yang tak pernah disaksikan dunia sebelumnya untuk mengenangnya.”

Shah Jahan terkejut dengan permintaan tersebut sebab permaisurinya itu berbicara masalah makam, sebuah kematian. Rupanya Arjumand dapat membaca raut muka suaminya dan segera saja ia melumuri mukanya dengan senyuman hangat.

“Semua orang pasti mati, bukan? Kanda bisa membangunnya segera, meskipun entah kapan saya akan menempati bangunan tersebut.”

Shah Jahan pun segera memanggil arsitek terbaik dari Mughal, Ahmed Lahauri. Siang dan malam, Lahauri berdikusi dengan Shah Jahan untuk menggali keinginan Kaisar Mughal tersebut.

“Bangunan tersebut merupakan simbol cinta abadiku kepada Mumtaz ul Zamani.”

Lahauri pun berusaha menterjemahkan keinginan Shah Jahan dalam karya arsitektur yang kelak membuat dunia mengaguminya. Shah Jahan sangat senang dengan gambar arsitektur yang diajukan Lahauri dan ia sendiri akan mengawasi secara langsung konstruksi bangunannya. Proyek mahakarya dimulai tahun 1630.

Syahdan, untuk mewujudkan keinginan besar tersebut Shah Jahan mengerahkan puluhan ribu pekerja, seribu gajah dan mendatangkan material-material mahal dan eksotik yang sebagian besar berupa marmer putih dari seluruh wilayah India,  Afghanistan, Tibet dan Tiongkok.

Ketika proyek baru berjalan beberapa bulan, pada tahun 1631 permaisuri Mumtaz meninggal. Sungguh, kematian istri yang sangat disayanginya itu membuat kesehatan Shah Jahan mengalami kemerosotan tajam. Kondisi tubuh Shah Jahan berubah cepat tua dibandingkan dengan usia yang sebenarnya.

Hal tersebut tidak menyurutkan niat untuk membangun simbol cinta sejati, malah ia semakin giat untuk segera menyelesaikannya. Seiring berjalannya waktu, ternyata untuk membangun sebuah bangunan yang berarsitektur menakjubkan ini baru diselesaikan pada tahun 1653.

Perlu waktu 23 tahun untuk membangun simbol cinta abadi!

Bangunan ini berdiri kokoh di Agra, India. Khalayak menyebutnya sebagai Taj Mahal, sedangkan Rabindranath Tagore menyebut Taj Mahal sebagai setetes air mata yang jatuh di pipi sang waktu.