Rasa Bahasa

Dalam menulis saya tidak terlalu ambil peduli dengan gaya bahasa saya mengikuti mahzab yang mana. Ini masalah kebiasaan saja, kok. Kebiasaan menulis akan membentuk gaya bahasa. Saya sependapat jika masalah gaya bahasa ini sesuatu yang penting dalam bidang kepenulisan. Gaya bahasa bukan melulu cara bertutur tetapi juga berperan dalam menyapa pembaca. Anda tentu akan betah ketika membaca tulisan Ndoro Kakung atau Dee, yang meskipun tulisannya lumayan panjang, Anda rela untuk membacanya secara tartil dan menghindari membaca secara cepat. Gaya bahasa yang disajikan cocok benar dengan emosi pembacanya.

Setiap penulis mempunyai gaya bahasa sendiri, termasuk saya. Dalam setiap kalimat saya bebas menyelipkan emosi-emosi yang akan menjadi ciri khas saya : lucu, narsis, mengharukan, konyol, menyebalkan dan berbagai macam emosi yang lain. Apakah semua itu ada pakemnya? Nggak ada sodara-sodara!

Anda tentu akan betah ketika membaca tulisan

Ada sebagian narablog yang merasa gaya bahasa tulisannya terlalu resmi, datar, seperti bahasa skripsi, bertele-tele atau amburadul.

Gaya bahasa mempengaruhi rasa bahasa. Sebetulnya, dua hal ini saling berkaitan. Saya sering menjumpai sebuah tulisan tidak mempunyai rasa bahasa sama sekali. Tulisan tersebut biasanya hasil comot sana-sini dan dicoba untuk sambung-menyambung menjadi satu paragraf. Dibaca sepintas sih kelihatan hebat, tetapi kalau dicermati wah.. parah! Penulis tersebut tidak menguasai ilmu meramu berbagai gaya bahasa, jadinya bahasanya terasa hambar.

Lalu, bagaimana cara ‘memasak’ kata-kata sehingga menghasilkan rasa bahasa? Seorang koki yang hebat, asalnya dari belajar meramu bumbu dan bahan masakan, dan itu dilakukan terus-menerus sehingga mendapatkan rasa makanan yang pas di lidah. Sama seperti ketika menulis. Satu tulisan selesai, alangkah baiknya kalau dirasa-rasakan dulu, kata atau kalimat mana yang kurang pas atau yang berpotensi menimbulkan salah persepsi bagi para pembaca.

Percaya atau tidak, kalau ingin tulisan Anda mempunyai rasa bahasa yang enak, biasakanlah membuat dan membaca sajak-sajak.