Tetuka belajar terbang

Bimasena sedih dan pusing tujuh keliling. Tetuka, anak lelakinya yang sudah berusia satu setengah tahun itu belum juga berhasil dipotong tali pusarnya semenjak ia lahir dari rahim Dewi Arimbi, ibunya. Tali pusar yang panjangnya sekitar sejengkal orang dewasa itu kadang terlihat di luar pakaian Tetuka. Dasar anak kecil, tali yang nglewer itu malah jadi bahan mainan.

Arimbi tentu saja juga bersedih hati, anak lelaki yang berwajah ganteng itu seolah punya cacat bawaan. Punya ekor, tapi berada di perutnya. Bimasena sengaja menyembunyikan anaknya dari pergaulan dunia WayangSlenco. Saban hari, Arimbi mengasuh anaknya itu di dalam rumahnya saja.

Suatu ketika, acara televisi di ruang keluarga memutar film Superboy. Film kartun itu sungguh menarik minat Tetuka. Ia tarik pakaian ibunya supaya ikut menonton film Superboy. Tetuka yang bicaranya masih cadel itu berkata kepada ibunya, “Mama…. aku pengin telbang kaya Supelboy ituh…!

Arimbi cuma tersenyum mendengar celoteh anak lelakinya. Namun, tanpa sepengetahuan Arimbi maupun Bimasena, Tetuka sering melompat dari atas meja atawa kursi menirukan gaya terbang Superboy. Berkali-kali Tetuka terjatuh. Ia tak putus asa. Ajaib, Tetuka akhirnya bisa melayang. Ia girang bukan main.

Tetuka bisa terbang membuat heboh Kerajaan Pringgondani. Bimasena maupun Arimbi bangga pada kemampuan Tetuka yang bisa terbang tanpa menggunakan sayap atawa jubah seperti Superboy. Kabar tentang Tetuka sampai ke kahyangan yang memaksa Bathara Narada sudi turun ke bumi menemui Bimasena.

Dalam pertemuannya dengan Narada, Bimasena curhat perkara tali pusar Tetuka yang belum bisa dipotong oleh alat secanggih apapun juga. Ia minta Narada untuk membantunya, dan Narada menyanggupi.

Syahdan, Narada kembali ke kahyangan untuk mengambil sebuah keris yang bernama Kuntawijaya. Saat ia kembali ke bumi, ia bertemu dengan Adipati Karna yang ia kira Arjuna, sebab berwajah mirip. Ia menyerahkan Kuntawijaya untuk memotong tali pusar Tetuka, anak Bimasena. Adipati Karna segera berlalu setelah menerima Kuntawijaya. Belakangan Narada menyadari kalau ia berhadapan dengan Karna. Maka, buru-buru ia menemui Arjuna untuk merebut Kuntawijaya dari tangan Karna.

Terjadi perkelahian seru antara Karna dan Arjuna. Karna mempertahankan Kuntawijaya, sementara Arjuna berusaha merebutnya. Akhirnya, Arjuna berhasil merebut sarung Kuntawijaya yang terbuat dari kayu Mastaba dan membawanya kepada Bimasena.

Ternyata, kayu Mastaba itu bisa digunakan untuk memotong tali pusar Tetuka. Anehnya, kayu Mastaba itu lenyap masuk ke perut Tetuka.1

Tetuka yang masih balita itu pun diminta oleh Narada pergi ke kahyangan yang tengah diobrak-abrik oleh Patih Sekipu dari Kerajaan Trebelasuket. Tetuka terbang ke kahyangan mirip gaya idolanya, siapa lagi kalau bukan Superboy. Patih Sekipu langsung diserang oleh Tetuka. Patih Sekipu menendang Tetuka dengan sangat keras yang menyebabkan tubuh Tetuka melesat dan jatuh di Kawah Candradimuka.

Melihat hal tersebut, para dewa menjatuhkan aneka senjata ke dalam kawah. Tak lama kemudian, muncul seorang lelaki gagah perkasa, berkumis tebal, berotot kawat dan bertulang besi. Ia adalah Tetuka yang menjelma menjadi pria dewasa. Sejak itulah ia dipanggil dengan sebutan Gatotkaca.

Gatotkaca segera mentas dari kawah, terbang melesat ke arah Patih Sekipu. Ia berhasil membunuh Patih Sekipu dengan gigitan taringnya2. Bathara Kresna segera menyusul ke kahyangan untuk memotong gigi taring Gatotkaca dan berpesan agar ia menghilangkan sifat-sifat raksasa dari dalam tubuhnya.

Catatan kaki:
1Di Perang Bharatayuda Gatotkaca terbunuh oleh Karna dengan menggunakan senjata Kuntawijaya. Keris tersebut mencari sarungnya yang berada di perut Gatotkaca.
2Gatotkaca masih keturunan raksasa, sebab ibunya, Dewi Arimbi adalah raseksi. Kisahnya pertemuan Bima dan Arimbi pernah saya ceritakan di sini.

(Visited 1 times, 1 visits today)