Tetirah ke Blambangan

Saya memanfaatkan harpitnas 16 Mei 2014 kemarin untuk ambil cuti tetirah ke bumi Blambangan. Negerinya Menak Jinggo, Banyuwangi (BWI). Kebetulan juga adik bungsu saya tinggal di sana, tepatnya di Muncar. Dan meskipun sudah belasan tahun ia tinggal di sana, saya belum sekalipun mengunjunginya. Alhamdulillah, kemarin itu saya kelakon bersilaturahim ke rumahnya.

Hari pertama, 15 Mei

Saya berangkat ke Jogja (JOG) dari Bandara Halim Perdanakusuma (HLP), dengan maskapai QG. Keberadaan HLP untuk penerbangan komersial menguntungkan saya sebab saya nggak usah jauh-jauh pergi ke CGK. Saya ke HLP naik Kyai SX4, dan ia saya parkir inap di sana.

Sampai JOG, saya ketemu Kika barang sejam kemudian saya melanjutkan perjalanan ke Karanganyar (KRA) dengan naik kereta api. Saya mesti jemput bapak dan ibu yang akan bersama-sama pergi ke BWI. Saya sampai di KRA selepas maghrib. Mandi kemudian makan malam dengan sayur masakan ibu.

Jam 11 malam, kami siap-siap berangkat ke Stasiun Solo Balapan (SLO) dengan naik taksi. Tak sampai sejam, kami bertiga sudah duduk di peron stasiun menunggu Kereta Bima jurusan Surabaya Gubeng (SGU).

Hari kedua, 16 Mei

Kereta Bima datang terlambat 30 menit. Baru jam 2 dini hari sampai di SLO. Karena ngantuk berat, tak lama setelah duduk di gerbong, kami langsung tertidur dan tahu-tahu sudah sampai SGU. Pagi itu Surabaya sejuk sekali, sebab semalaman turun hujan dan saya masih melihat bekas genangan air.

Tujuan berikutnya adalah menuju Bandara Juanda Surabaya (SUB). Kami naik taksi dengan sopir yang asyik diajak ngobrol. Ketika melewati sekitaran Taman Bungul, ia bercerita bagaimana macetnya Surabaya ketika terjadi insiden taman rusak akibat bagi-bagi es krim gratis. Ia juga memuja-muji sepak terjang Bu Risma walikota kebanggaan masyarakat Surabaya itu.

Sampai di SUB saya baru ngeh kalau sekarang ada Terminal 2 ketika mas sopir taksi menanyakan ke mana tujuan saya dan naik pesawat apa. Penerbangan saya ke BWI melalui Terminal 1.

Di SUB kami bersih-bersih dan nyarap soto. Kami punya waktu sekitar 3 jam untuk leyeh-leyeh, sebelum terbang ke BWI dengan maskapai IW. Perjalanan ke BWI ditempuh dalam waktu 40 menit saja. Sampai di BWI kami dijemput oleh mobil rental yang saya temukan di internet menuju Muncar.

Sampai di rumah adik saya, langsung mandi kemudian berangkat jumatan.

Hari ketiga, 17 Mei

Acara kami city tour, di kota BWI dan sekitarnya. Tujuan pertama adalah Pulau Merah, sebuah objek wisata pantai yang sangat elok. Pemandangannya mirip-mirip Pantai Kuta Lombok. BWI punya banyak pantai. Tujuan berikutnya adalah kota BWI dan menjadi kebiasaan saya jika berada di sebuah kota saya akan mampir di Masjid Agung. Makan siang di bakaran ikan di Pantai Blimbingsari. Ini sih mirip betul seperti di Jimbaran Bali. Bandara BWI namanya Bandara Blimbingsari (DQJ), maka jika bandara ini sudah ramai, makan ikan bakar di tempat ini bisa disambi menyaksikan pesawat naik turun di bandara.

Tujuan berikutnya kami mampir di petilasan Umpak Songo, konon di tempat ini pernah berdiri pendopo Keraton Blambangan, cuma belum jelas di zaman pemerintahan Menak Jinggo atau setelahnya. Destinasi terakhir kami adalah Pelabuhan Ikan Muncar. Di sini saya menyaksikan sunset dan semenanjung Sembulungan.

Kalau punya waktu agak lama, BWI menyimpan tempat eksotik untuk saya kunjungi seperti Taman Nasional Alas Purwo, Kawah Ijen, Taman Nasional Baluran, Pantai Sukamade, Pantai Plengkung, dsb.

Hari keempat, 18 Mei

Selepas subuh, mobil rental sudah menjemput saya untuk diantar ke DQJ. Kali ini saya berdua dengan bapak, soalnya ibu mau agak lamaan di BWI. Penerbangan saya pagi itu menggunakan maskapai GA jurusan SUB. Bandara DQJ relatif kecil dan bangunannya sederhana. Saya tiba di DQJ masih kepagian, soalnya bandara kantor bandara belum buka. Petugas cleaning service masih pada ngepel dan bersih-bersih. Para pegawai juga baru pada datang. Saya dan bapak menjadi penumpang yang pertama kali melakukan check in.

Maskapai GA tiba di SUB melalui Terminal 2. Penerbangan saya selanjutnya menuju JOG dengan maskapai IW, melalui Terminal 1. Jarak kedua terminal ini sekitar 7 atau 8 km, melalui jalan umum. Sebetulnya ada bus Damri yang difungsikan sebagai shuttle bus melayani rute Terminal 1 dan 2, tetapi saya ndak yakin jadwal berangkatnya. Maka, saya memilih naik taksi bandara.

Hmm… lumayan kaget ketika tahu tarif taksi yang mengantar ke Terminal 1: 95.000 rupiah!

Sampai di JOG, saya berpisah dengan bapak. Ia melanjutkan perjalanan ke KRA diantar temannya Mas Yoga sampai di rumah. Sementara itu saya melanjutkan perjalanan ke HLP, dan pulang ke Karawang mengendarai Kyai SX4.

(Visited 1 times, 1 visits today)