Tarawih di Masjidil Haram

Kesampaian juga keinginan saya untuk bisa shalat tarawih di Masjidil Haram. Ka’bah yang agung terlihat sangat jelas dari tempat saya berdiri shalat. Baitullah selalu membikin rindu saya untuk datang lagi kepadanya. Masjidil Haram penuh sesak oleh jamaah di bulan Ramadhan, suasananya mirip saat musim haji.

Saya baru menyadari kalau malam ini tarawih di malam ganjil, malam ke-21. Suara imam Masjidil Haram yang sangat merdu dan menyentuh kalbu membuat saya betah berdiri cukup lama untuk setiap rakaatnya. Ya, surat akan dibaca dalam shalat tarawih sepanjang 1 juz.

“……Sholluu sholaatat tarawih rahimakumullah……” Suara Ustadz Ahmad terdengar lantang. Bayangan saya melaksanakan shalat tarawih di Masjidil Haram buyar sudah. Bisa jadi saya tertidur sepanjang berlangsungnya kultum tarawih. Saya sempat kaget ketika jamaah di sebelah saya menepuk pundak supaya saya segera berdiri dan bersama-sama melaksanakan shalat tarawih.

~oOo~

Entah apa yang akan dikejar oleh sang imam shalat. Saya keteteran mengikuti bacaan shalatnya yang demikian cepat. Berdiri-rukuk-sujud dilakukan dengan sangat tergesa. Surat yang dibaca pun pendek-pendek. Qulhu yang diulang-ulang. Shalat 23 rakaat pun diselesaikan dengan sukses selama kurang dari setengah jam!

Di mesjid perumahan tempat saya tinggal, shalat tarawih dengan sistem kilat saja jamaahnya makin lama makin sedikit. Apalagi kalau surat yang dibaca sepanjang 1 juz ya?