Sedah dan Prabarini

piaAkhirnya aku memberanikan diri menghadap Prabu Jayabaya untuk mengutarakan isi fikiran yang mampat di otakku. Tak biasanya aku segrogi ini memasuki halaman istana Kediri.

“Sudah sampai di mana kepenulisanmu, Mpu?” Prabu Jayabaya bertanya kepadaku tentang wiracarita Mahabharata yang sedang aku tulis. Ia memberi proyek kepadaku untuk menerjemahkan naskah Mahabharata yang berasal dari Negeri Hindustan ke dalam bahasa Kawi.

“Seharusnya sudah masuk ke bab Salya dan istrinya, Setyawati. Untuk itulah aku menghadap kepadamu untuk minta izin menulis bab tersebut di istana ini,” ucapku kepada Raja Kediri. “Dengan didampingi oleh permaisurimu, Prabarini.”

“Mengapa harus Prabarini?” tanya Jayabaya.

Pertanyaan pancingan, aku kira. Aku menangkap ada aroma cemburu di wajah Jayabaya. Ia sangat tahu kalau aku sangat mencintai Prabarini dan atas akal licik kakeknya terpaksa aku melepas Prabarini untuk dipersunting oleh Jayabaya.

“Prabarini sumber inspirasi untuk menulis sosok Setyawati. Percayalah, aku tak akan berbicara dengannya apalagi menyentuhnya. Ia hadir di sisiku saja sudah cukup untuk menjadi umpan datangnya kalimat-kalimat indah yang kelak akan aku tuliskan dalam Kitab Mahabharata,” aku memberikan argumen.

Maka, Raja Kediri itupun mengizinkan diriku untuk menyelesaikan kisah Salya dan Setyawati di salah satu puri yang terletak di samping istana utama dengan ditemani oleh Prabarini.

***

Proses kepenulisanku sangat produktif dengan adanya Prabarini di sampingku. Kami hanya diam membisu, meskipun sesekali kami bersitatap pandangan. Ah, Prabarini masih saja menyimpan pesona kecantikan sejak pertama kali kami bertemu tiga belas tahun lalu.

Gambaran sosok Prabu Salya Raja Mandraka yang masa mudanya bernama Narasoma itu aku bikin mirip denganku, sedangkan Setyawati alias Pujawati menjadi gambaran utuh dari Prabarini. Cinta kami seperti tergambarkan oleh Narasoma dan Pujawati.

Atau aku yang ke-GR-an saja? Barangkali cinta Prabarini kepadaku telah pupus sama sekali?

Dalam waktu sepekan aku selesaikan bab yang menguras tenaga dan fikiran, dengan ditemani Prabarini dalam diamnya. Ketika aku ingin bangkit dari duduk, kepala berasa berputar.

Aku terjatuh di lantai. Dalam kesadaran level terendah, aku merasakan Prabarini mendekati tubuhku, mengukur denyut nadi di leherku.

Belakangan aku siuman dan menyadari keberadaanku sudah ada di penjara bawah tanah istana. Tuduhan kepadaku sangat serius: Sedah telah menyentuh permaisuri raja.

Note:
Kisah di atas mestinya menyelip di antara paragraf Bara dalam sekam Jayabaya kepada Mpu Sedah