Saya takut ular

Artikel yang berjudul Ini Kenapa Anda Tak Perlu Lagi Takut Ular sungguh mengusik hati untuk segera membacanya, secara saya (sangat) takut kepada binatang melata tersebut. “Binatang yang paling banyak membunuh manusia itu sebenarnya bukan ular justru nyamuk sebagai pembunuh manusia terbanyak,” ujar Direktur Kehati Indra Gunawan di Jakarta, Selasa (6/5). Ular berada di urutan ketiga sebagai pembunuh terbanyak dan di alam liar ular justru takut dengan manusia. Sebab, ular akan menyerang hanya atas dasar naluri bertahannya. (Republika online, 6 Mei 2014)

Melihat gambarnya saja membuat bulu kuduk saya merinding. Bahkan, kaki saya akan ngregeli ketika di jalan mobil saya melindas bangkai ular (terpaksa melindasnya sebab tak mungkin ada celah untuk menghindar). Nekjika di televisi ada film tentang ular, buru-buru saya memindahkan salurannya.

Waktu kecil dulu, saya sering ditakut-takuti ular oleh teman-teman saya. Bukan ular berbisa sih, hanya ular lare angon (Xenochrophis vittatus). Jenis ular ini sangat jinak, sering untuk mainan anak-anak gembala, makanya disebut sebagai ula lare angon (ular anak gembala). Meskipun ndak galak, saya berani-berani gimana gitu.

Saya ingat betul pesan ibu guru klas tiga SD dulu, agar sering membersihkan kolong tempat tidur supaya tidak menjadi sarang ular. Nasihat itu tertanam hingga sekarang. Kalau menyapu rumah, tak lupa saya membersihkan kolong dipan.

Ketika saya duduk di bangku SMA, teman sebangku saya hobi sekali bermain ular. Ia selalu meyakinkan saya, kalau ular itu hewan yang sangat baik. Sesekali saya diminta mengelus-elus ular yang dibawanya. Namun saya masih menolak jika disuruh menggendongnya. Pada suatu ketika ia menunjukkan kebolehannya menangkap ular kobra. Nahas betul nasib kawan saya itu, tangan kanannya (antara ibu jari dan telunjuknya) dipatuk kobra yang ditangkapnya. Akibatnya sangat fatal. Ia dirawat beberapa hari di rumah sakit.

Apakah ia sembuh? Tidak. Tangannya bengkak, lukanya ndak kering-kering dan berbau amis. Pada saat-saat tertentu saya membantu mengurut tangannya untuk mengeluarkan cairan amis dari lukanya. Tentu saja tangannya diperban, sehingga terpaksa ia menulis dengan tangan kiri. Belakangan, tangan kanannya sembuh tetapi meninggalkan cacat, ibu jari dan telunjuknya menyatu.

Untuk penyembuhan luka tersebut, orang tua kawan saya itu sampai menjual sapi. Berita gembiranya, kawan saya itu kapok bermain-main dengan ular. Saya pun semakin menjauhi ular.

***

Pengalaman buruk dengan ular saya alami ketika saya bekerja di tengah hutan di Kalimantan. Pada kegiatan membuka jalan hutan, seorang kawan yang berada di belakang saya memberi tahu supaya saya diam, jangan bergerak atau melanjutkan langkah kaki. Di atas kepala saya ada ular (sebesar lengan saya), dengan kepala menjuntai hampir mengenai ubun-ubun saya. Bahkan saya tak berani mengedipkan mata, ketika lidah ular dengan suara desisan di dekat jidat saya.

Tahu-tahu saya sudah berada di tenda. Saya semaput.

Selanjutnya, begitu mendengar suara gemerisik seperti ular melata di dekat saya tubuh saya selalu gemetar! Di hutan Kalimantan pendengaran saya seakan menjadi demikian tajam.

Pengalaman buruk bertemu ular kembali saya alami. Namanya hidup di hutan, mestinya saya harus berakrab-akrab dengan ular. Justru saya menghindarinya. Dan cilakanya semakin sering bertemu dengannya. Waktu mandi di sungai, ia seperti meledek saya dengan melata di dekat tumpukan pakaian yang saya letakkan di pinggir sungai. Maka saya buru-buru berlari meskipun tanpa baju dan celana. Ular yang saya temui ndak ada yang mungil, semua ukuran raksasa.

Kesemaputan kedua saya saat saya mengambil air wudhu di samping mushola camp di pagi buta. Ada ular dengan kepala tegak di bawah padasan, dekat sekali dengan kaki saya. Sepertinya ular kobra.

***

Apakah setelah membaca artikel Ini Kenapa Anda Tak Perlu Lagi Takut Ular tersebut saya akan berani bertemu ular? Tidak juga. Tetapi setidaknya saya mulai berani membayangkan peristiwa masa lalu yang saya tuliskan di atas itu.