Sabai nan Aluih

Gadis berambut sebahu itu telah menyempurnakan keindahan pagi yang sedang gerimis dengan syair-syair indah yang keluar dari mulutnya. Jemarinya lincah memainkan benang dalam mesin tenun dipangkuannya.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana :
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana :
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

~ sapardi djoko damono ~

Ya, siapa yang tidak mengenal perawan jelita dari kampung Padang Tarok ini. Ia yang bernama Sabai nan Aluih, Sabai yang halus lagi lembut. Kecantikan dan sifat terpujinya membuat bangga kedua orangtuanya, Rajo Babanding dan Sadun Saribai.

Arkian, kecantikan Sabai nan Aluih didengar oleh seorang saudagar kaya raya dari kampung Situjuh, yang jaraknya sehari perjalanan dari Padang Tarok. Saudagar kaya itu Rajo nan Panjang yang sebenarnya masih sahabat dari Rajo Babanding, ayah Sabai nan Aluih. Sebagai seorang buaya darat, Rajo nan Panjang begitu ingin menyunting bunga nan jelita yang tinggalnya di pinggiran sungai Batang Agam itu. Segera saja ia menyuruh para begundalnya pergi ke kampung Padang Tarok untuk meminang Sabai nan Aluih.

“Kami utusan resmi Rajo nan Panjang dari Kampung Situjuh, maksud kedatangan kami untuk menyampaikan pinangan tuan kami kepada Sabai nan Aluih,” kata salah seorang utusan Rajo nan Panjang.

Ayah Sabai nan Aluih menghela nafas panjang dan menjawab, “Begini tuan, saya tidak bermaksud mengecewakan hati sahabat saya. Tolong sampaikan permintaan maaf saya kepadanya bahwa saya malu bermantukan orang kaya yang seumuran saya. Silakan kalian tinggalkan rumah kami!”

Rajo nan Panjang meradang mendengar laporan para begundalnya bahwa ia ditolak oleh Rajo Babanding. Segera saja ia bergegas berangkat sendiri untuk menemui sahabatnya itu. Sesampai di rumah sahabatnya, tanpa basa-basi ia tuturkan tujuannya untuk meminang Sabai nan Aluih jadi istrinya.

“Sahabatku, sebaiknya kita berunding di luar rumah saja,” ajak Rajo nan Babanding, yang sebenarnya menolak pinangan secara halus.

“Baiklah, kalau itu yang kamu inginkan. Tapi di mana kita akan berunding?” tanya Rajo nan Panjang agak berang.

Akhirnya disepakati bahwa tempat berundingnya di Padang Panahunan, seminggu lagi.

Rupanya Sabai nan Aluih mendengar semua pembicaraan dua sahabat itu dan Sabai nan Aluih mengkuatirkan keselamatan ayahnya.

“Apakah berarti nanti akan terjadi perkelahian di Padang Panahunan, ayah?” tanya Sabai nan Aluih.

“Benar anakku. Tetapi kamu jangan kuatir, ayah pasti bisa menjaga diri,” jawab Raja Babanding.

Sejak itu, Sabai nan Aluih selalu gelisah memikirkan keselamatan ayahnya. Bahkan kegelisahan itu terbawa dalam mimpinya.

“Ayah, semalam aku bermimpi begitu buruk. Lumbung padi menjadi arang, kerbau sekandang dicuri orang dan ayam ternak disambar elang, bukankah ini pertanda buruk?” Sabai nan Aluih menceritakan mimpinya kepada ayahnya.

“Anakku Sabai, mimpimu itu pertanda baik. Lumbung padi terbakar berarti padi akan dipanen, kerbau hilang berarti ternak kita akan bertambah, ayam disambar elang berarti adikmu Mangkutak akan dilamar orang,” bujuk ayahnya.

“Oh ayah, kalau benar demikian, hati Sabai menjadi tenang. Akan tetapi, jika malapetaka yang menimpa ke mana lagi kami akan bergantung?” kata Sabai nan Aluih dengan sedih.

“Tenanglah, apa yang ayah lakukan ini untuk menjaga harkat dan martabat keluarga kita. Ayah tidak ingin kehormatan keluarga kita dicoreng oleg Rajo nan Panjang yang angkuh dan sombong itu,” kata Rajo Babanding.

Dan hari yang ditentukan tiba. Di Padang Panahunan yang terik. Rupanya Rajo nan Panjang telah tiba lebih dulu di sana, buat apa kalau bukan untuk menyusun rencana liciknya. Tidak lama kemudian, Rajo Babanding pun datang. Tanpa sepatah kata yang terucap dari keduanya, mereka langsung saja mengeluarkan jurus berkelahinya. Gerakan dua sahabat ini sungguh lincah. Pada jurus ke enam Rajo nan Panjang mulai terlihat kalah. Rupanya kehebatan Rajo nan Panjang hanya besar di mulut saja. Pada saat terdesak seperti itu, ia mengacungkan tangan kanannya untuk memberikan isyarat kepada pegundalnya yang bersembunyi di balik semak.

Doorrrrrrr!!!

Terdengar letusan senjata dari balik semak. Raja Babanding tersungkur, dadanya tertembus peluru panas yang dibidikkan begundal Rajo nan Panjang.

Sabai nan Aluih yang sedang berjalan ke arena pertempuran kaget mendengar suara tembakan tadi. Ia bergegas menuju ke tengah Padang Panahunan. Di sana ayahnya tergeletak mati berlumuran darah.

“Dasar kamu laki-laki pengecut! Beraninya bermain curang kepada ayahku,” Sabai nan Aluih berseru kepada Rajo nan Panjang.

“Ha..ha…ha… sekarang tidak ada yang menghalangi kamu untuk aku jadikan istriku, anak manis”, kata Rajo nan Panjang berusaha meraih tangan Sabai nan Aluih.

Tanpa diduga oleh siapa pun, Sabai nan Aluih merebut senjata yang dibawa begundal Rajo nan Panjang, dan segera menarik pelatuknya. Terdengar dentuman yang sangat keras.

Seketika, Rajo nan Panjang tewas!

wahai ananda dengarlah peri
di atas yang benar hendaklah berani
menghadapi lawan berpantang lari
supaya hidupmu tidak merugi
wahai ananda dengarlah pesan
gagah berani sifat yang jantan
berlemah lembut sifat perempuan
di atas yang hak engkau berjalan
rizki jangan mematikan
harta jangan membutakan
nikmat jangan menyesatkan

______________________
Note: Hikayat ini saya tafsirkan secara bebas dari Sabai nan Aluih karya pujangga lama Tulis Sutan Sati.

(Visited 1 times, 1 visits today)