Rengasdengklok: Revolusi dan Peristiwa 16 Agustus 1945

Judul buku  : Rengasdengklok Revolusi dan Peristiwa 16 Agustus 1945
Penulis          : Her Suganda
Penerbit        : Kompas, Agustus 2009
Tebal              : xxxvii + 241 halaman

Siapa yang tidak mengenal Rengasdengklok? Ketenarannnya bahkan melampaui Karawang, nama Kabupaten yang menaunginya. Ya, Rengasdengklok populer karena adanya peristiwa bersejarah tanggal 16 Agustus 1945, sehari sebelum diproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia.

Buku yang sampulnya bergambar Monumen Suroto Kunto ini memfokuskan perhatian pada rangkaian peristiwa yang terjadi di Rengasdengklok sehari sebelum proklamasi kemerdekaan, meskipun peristiwa itu hanyalah merupakan bagian dari riwayat daerah ini. Rengasdengklok, suatu kota kecil di Kabupaten Karawang selalu menjadi bahan pembicaraan menarik, terutama pada setiap menjelang HUT RI. Tepat sehari sebelum proklamasi, para pemuda dan anggota PETA membawa Bung Karno dan Bung Hatta disertai Ibu Fatmawati dan Guntur Soekarnoputra yang masih bayi ke kota kecil ini. Padahal, pada hari yang sama Bung Karno dan Bung Hatta rencananya akan memimpin rapat Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). 

Kehadiran kedua pemimpin Bangsa Indonesia di Rengasdengklok menjadi lebih menarik karena adanya satu peristiwa unik lainnya. Pada Kamis tanggal 16 Agustus 1945 itu, di halaman pendopo kawedanan berlangsung upacara penurunan bendera Jepang Hinamaru, yang diikuti penaikan Sang Saka Merah Putih. Peristiwa itu dilanjutkan dengan pernyataan kemerdekaan oleh camat setempat. Di sinilah kemudian bisa disebut bahwa peristiwa Rengasdengklok 16 Agustus 1945 sebetulnya membalik sejarah nasional 180 derajat! Bila skenario awal tetap dijalankan, Indonesia akan memperoleh kemerdekaan yang sudah dipersiapkan bersama-sama dengan Jepang. Pembentukan lembaga seperti Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dan PPKI merupakan rangkaian dari proses tersebut.

Selain menguak peristiwa Rengasdengklok, buku ini juga mengungkap peristiwa lain yang langsung maupun tidak langsung berkaitan dengan proklamasi dan revolusi kemerdekaan yang pecah setelah itu, antara lain peristiwa penculikan Letkol Suroto Kunto yang didampingi Mayor Adel Sofyan, Kopral Muhayar dan Prajurit Murod sepulang melakukan perundingan dengan Dewan Pimpinan Laskar Rakyat Djakarta Raya (LRDR) di Bekasi. Namun sekembalinya dari berunding keempatnya diculik di daerah Warungbambu, sebuah daerah yang terletak di sisi jalan raya Karawang-Cikampek. Keempatnya dinyatakan hilang. Tepat di mana ditemukan mobil sedan yang pernah ditumpangi Letkol Suroto Kunto dan stafnya, kemudian didirikan tugu peringatan Suroto Kunto. Peristiwa lainnya yaitu pembantaian ratusan warga Desa Rawadgede, tetangga Rengasdengklok oleh pasukan Belanda pada 9 Desember 1947. Dalam peristiwa ini muncul nama pejuang lokal, seperti Kapten Lukas Kustarjo.

Tak kalah menarik, buku ini juga mengulas huru-hara di Rengasdengklok tanggal 30 Januari 1997 yang menyebabkan kota kecil Rengasdengklok luluh lantak, juga membahas nasib Monumen Rengasdengklok dan sebutan predikat Lumbung Padi untuk Karawang.

Note: Artikel ini pernah saya publikasikan di Karawang Info.

(Visited 1 times, 1 visits today)