Pinjam mulut

Rasanya hampir setiap orang pernah pinjam mulut orang lain, bahkan anak kecil sekalipun. Saya ingat betul, waktu masih SD suka pinjam mulut teman terutama saat berbicara dengan guru. Mungkin karena saya penakut atau malu, sehingga sungkan berbicara dengan guru saya. Misalnya mau izin pipis, maka saya minta bantuan teman untuk memintakan izin kepada guru di depan kelas.

Masih di masa kecil dulu, saya suka pinjam mulut ibu saya kalau saya ingin berbicara dengan bapak terutama untuk urusan minta uang, entah untuk bayar BP3 atau membeli buku. Biasanya, manjur sekali kalimat yang meluncur dari mulut ibu. Kalaupun bapak menolak, tak telak-telak menolak tetapi menunda memberikan uang karena sedang tidak punya uang.

Pinjam mulut sudah menjadi adat kebiasaan masyarakat kita. Peristiwa yang sering melibatkan urusan pinjam mulut misalnya penerimaan tamu pada acara hajatan pernikahan. Pihak keluarga akan pinjam mulut kepada tokoh yang dihormati untuk memberikan kata sambutan dan ucapan terima kasih kepada para tamu yang berkenan hadir. Bahkan sejak lamaran, urusan pinjam mulut sudah dilakukan oleh pihak keluarga.

Demikian pula untuk urusan kematian. Keluarga yang sedang kedukaan akan pinjam mulut kepada orang lain untuk mewakili memohonkan maaf si marhum/marhumah. Memang demikianlah adat bersosialisasi di tengah masyarakat.

Nekjika Anda sedang ndak punya uang tetapi malu untuk berhutang, maka tak salah kalau ada pinjam mulut teman Anda untuk ngomongin kebutuhan Anda kepada orang yang hendak Anda hutangi. Atau kalau Anda sedang naksir seseorang tetapi malu mengatakannya, bisa pinjam mulut teman Anda untuk mengutaran isi hati kepada orang yang Anda taksir itu.

***

Presiden Jokowi secara cerdas memanfaatkan adat kebiasaan pinjam mulut yang saya sebutkan di atas untuk menyeleksi para calon menteri yang akan ditunjuknya. Ia pinjam mulut KPK untuk ngomong, mana calon yang bersih, mana yang tidak bersih. Meskipun memilih menteri menjadi hak prerogatif Presiden, Jokowi tentu tak mau gegabah menentukan para pembantuanya tanpa tahu rekam jejak kekayaan mereka.

Dengan meminjam mulut The Padeblogan, saya berharap kabinet yang dibentuk Presiden Jokowi betul-betul diisi orang-orang yang berintegritas tinggi dan mereka tak akan melakukan korupsi nantinya.