Paa

Beberapa hari ini saya kesulitan tidur cepat. Biasanya, paling lambat menjelang tengah malam mata sudah terpejam. Sebelumnya saya tak mengkonsumsi makanan atawa minuman untuk membuat betah melek. Mungkin karena ada perasaan untuk selalu siaga menghadapi banjir yang akan datang, maka hujan yang turun sepanjang malam malah tidak membuat kantuk. Nanti, baru sekitar jam 3 dinihari, mata bisa terpejam.

Ada saja kegiatan untuk mengisi ketidakbisatiduran saya itu, meskipun seringnya saya menghabiskan ratusan lembar halaman buku yang belum sempat terbaca.

Pada suatu tengah malam, saya ingin nonton tipi. Berita-berita malam yang disajikan beberapa stasiun tipi kok sama. Iseng-iseng  saya pindah chanel ke MNCTV. Ada film India judulnya Paa. Selama film diputar, kok iklannya hampir tidak ada sama sekali.

Paa (ayah) ini jenis film drama yang mengharu-biru, menurut saya. Film yang dirilis tahun 2009 ini dibintangi oleh Amitabh Bachchan, Abhishek Bachchan, dan Vidya Balan yang menceritakan kisah Auro anak 12 tahun yang mengindap penyakit akibat kelainan genetika yang langka, dikenal dengan istilah progeria. Meskipun Auro berumur 12 tahun, namun secara fisik ia berujud manusia berusia 6 kali lipatnya.

Auro lahir akibat hubungan percintaan dua mahasiswa, Amol dan Vidya. Ketika Vidya hamil, Amol minta menggugurkannya namun Vidya menolak. Akhirnya mereka berpisah. Vidya menjadi dokter ginekolog sambil membesarkan Auro, sedangkan Amol politisi muda yang berhasil menjadi Perdana Menteri.

Di sekolah Auro menjadi murid yang cerdas. Pada suatu hari ia mendapatkan penghargaan dari Perdana Menteri. Itulah awal perkenalan ayah-anak meskipun keduanya tidak saling menyadari. Selama itu pula Vidya menyembunyikan keberadaan Amol dari Auro.

Amol dan Auro menjadi pribadi yang saling mengenal. Mereka saling telepon dan berkirim email. Amol mengajak Auro ke istana Presiden di New Delhi. Ketika rencana ini disampaikan kepada Vidya, ia membuka rahasia kepada anak lelakinya kalau Amol itu ayah kandungnya. Auro memanfaatkan kebersamaan dengan Amol untuk membuktikan bahwa Amol benar ayahnya.

Pada usia ke 13, kondisi kesehatan Auro menurun. Di rumah sakit, ia berhasil menyatukan Amol dan Vidya. Sebelum meninggal, dengan bahagia ia menyebut mereka Paa dan Maa.

Pesan moral film ini: orang yang menyakiti lebih menderita daripada orang yang disakiti. Ada sebuah adegan, Auro diberi secarik kertas oleh teman sekolahnya yang bertuliskan kira-kira seperti ini bunyinya: aku sudah berusaha meminta maaf kepadamu berkali-kali, apa kamu tahu seberapa besar kamu menyakitiku? Auro, cobalah memahami bahwa orang yang menyakiti lebih menderita daripada orang yang disakiti.

Teman sekolah Auro itu seorang gadis kecil. Pada hari pertama di sekolah ia ketakutan melihat sosok Auro yang berwajah sangat tua. Belakangan gadis itu menyadari kalau ia telah salah bersikap, maka saban hari ia berusaha mendekati Auro (untuk meminta maaf) namun Auro selalu menghindarinya.

(Visited 1 times, 1 visits today)