Oalah… UKG…UKG…

Saya termasuk orang yang sangat meyakini bahwa tak ada satu guru pun di belahan bumi mana pun yang nggak menanamkan nilai-nilai budi pekerti kepada murid-muridnya. Namun bagaimana pun, guru bukanlah dewa atau tukang sulap yang dengan mantranya dapat mengubah karakter para muridnya menjadi manusia yang sempurna akal budinya.

Kebersamaan guru-murid di sekolah paling banter 7 atau 8 jam sehari. Selebihnya, para murid itu, diasuh oleh guru-guru mereka yang lain yakni teman sepermainan, lingkungan tempat tinggalnya, televisi, dan internet. Sungguh keliru nekjika pendidikan karakter bangsa hanya dibebankan kepada guru melalui kurikulum di sekolahnya.

Zaman memang sudah berubah sangat cepat. Kemajuan teknologi memberi kontribusi yang sangat dominan terhadap perilaku manusia, termasuk guru dan murid. Peribahasa guru kencing berdiri murid kencing berlari pun artinya dapat diplesetkan sebagai murid jauh lebih melek teknologi informasi dibanding para guru di sekolahnya. Internet menjadi guru sejati bagi anak-anak bangsa.

Saya yakin, para murid SMP atau SMA tahun 80-an dan sebelumnya, sampai sekarang masih ingat wajah dan nama-nama guru sekolah mereka, termasuk (mungkin) nasihat-nasihatnya. Peristiwa di sekolah akan selalu dikenang melalui cerita-cerita di acara reuni, tak jarang mereka (para mantan murid itu) mengundang guru-guru mereka di acara reuni. Hubungan mereka nggak melulu sebagai guru-murid, namun seperti bapak-anak atau ibu-anak.

Jika memerhatikan kebijakan pemerintah di bidang pendidikan, sepertinya kok nggak punya Garis Besar Haluan Pendidikan ya. Pemerintah memberikan tanggung jawab masa depan anak bangsa kepada bidang pendidikan dengan porsi yang sangat besar. Anda tentu masih ingat, ketika banyak koruptor yang berusia sangat muda, pemerintah berwacana memasukkan pendidikan anti-korupsi di sekolah. Lalu, ketika banyak terjadi tawuran pelajar atau kriminalitas dilakukan oleh kalangan pelajar, pemerintah memunculkan wacana pentingnya pendidikan karakter di sekolah.

Kebijakan pemerintah di atas untuk para murid. Bagi gurunya pun ada. Beberapa tahun lalu, setiap guru harus berstatus sertifikasi. Dalam proses sertifikasi membuat jungkir-balik para guru hingga proses belajar-mengajar di sekolah menjadi terganggu. Betapa tidak, guru sibuk menyusun dokumen (maaf, terpaksa melakukan copy-paste dokumen milik temannya) atau mengikuti Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG), kelas kosong karena tak ada guru yang mengajar.

Ngomongin PLPG, saya mesti menyoal kebijakan pemerintah yang menghapus IKIP menjadi Universitas. Namanya saja IKIP (nama ini sangat keren, menurut saya), di sana tersebut sebuah Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan, sebuah pabrik yang mencetak para guru. Kata ‘Keguruan’ berarti memang terfokus untuk menghasilkan guru yang siap pakai yang tentunya dibekali dengan ‘Ilmu Pendidikan’. Lucunya lagi, pemerintah melaksanakan UKG (Uji Kompetensi Guru). Pemerintah seperti nggak percaya sama para guru yang sudah mengajar belasan atau puluhan tahun, sehingga perlu di-UKG-kan. Sstt… tahu nggak UKG membuat sebagian guru stres loh. Ada yang seumur-umur baru memegang mouse komputer, sehingga malam harinya kudu belajar megang mouse dulu sebelum esoknya ber-UKG.

Guruku malang, guruku tersayang. Selamat Hari Guru, 25 November 2015. Tanpamu apa jadinya aku.

(Visited 1 times, 1 visits today)