Ngomyang di akhir 2012

Tetirah akhir 2012 kali ini tak bisa lepas seratus persen dari rutinitas kerja, karena hape di tas selempang saya tak henti berdering, beberapa panggilan minta keputusan saya segera. Lha iya maklum saja, wong saya mengambil cuti setelah hari kejepit nasional. Peristiwa kecil tapi penting sudah saya ceritakan di sini. Rute terirah yang saya ambil adalah Dieng – Yogya – Solo – Sragen – Demak – Cirebon, di mana kisahnya insya Allah akan saya tulis di postingan berikutnya.

Tetirah adalah sebuah laku untuk mengistirahatkan jiwa barang sejenak dari rutinitas sehari-hari. Tetirah juga untuk sejenak melupakan pekerjaan utama untuk menyegarkan kembali otak yang makin lama makin tumpul, apalagi usia semakin kewut. Ada sebuah kisah yang sering diceritakan dalam forum-forum pelatihan manajemen: dua orang penebang kayu diberi tugas menebang sebatang pohon yang sangat besar, masing-masing diberi sebuah kapak yang sama tajamnya. Penebang nomor 1 bekerja terus-terusan dengan harapan pohon besar itu segera tumbang. Sedangkan penebang nomor 2, dalam waktu tertentu melakukan jeda untuk mengasah kapaknya. Syahdan, penebang nomor 2-lah yang lebih dulu menumbangkan pohon dengan tebangan yang rapi.

~oOo~

Seperti tahun-tahun yang telah berlalu, saya masih anti merayakan pergantian tahun. Seperti malam ini, saya ndhêkêm manis di rumah, menikmati indahnya rintik hujan sambil menulis di layar Kyai Toshiba dan membaca buku.

Jika ada yang bertanya apakah saya ikut-ikutan membikin resolusi 2013, saya akan menjawab tidak punya. Hidup terus bergerak, dinikmati saja. Ada patokan yang saya pegang, hari ini jangan seperti hari kemarin, harus lebih ternikmati dan lebih disyukuri.

Satu hal yang tak mungkin saya tinggalkan, yakni kulak restu pada orang tua. Apalagi kemarin ada kesempatan bertemu muka dengan mereka. Restu orang tua ibarat ngecas semangat untuk memperbarui langkah. Bukankah restu orang tua itu kepanjangan ridha Gusti Allah?

~oOo~

Ndak terasa, satu semester sudah Lila nyantri si Subang. Tanggal 22 Desember 2012 kemarin, saya menghadiri acara pembagian rapor di sekolahnya. Akhirnya ia betah juga hidup di asrama, meskipun di pertengahan semester kami sempat menawarinya untuk pindah sekolah setelah kami cemas karena selama hampir sepuluh hari ia sakit dan dibawa ke klinik oleh wali asrama. O, rupanya rapormu tetap excellent nak!

Sepanjang perjalanan pulang ke rumah untuk liburan semester, saya bertanya kesehariannya di sekolah dan asrama. Ia kini jauh lebih mandiri, dan pintar mengatur uang saku untuk pengeluaran harian. Ia juga mulai menghapal Quran. Semoga saya selalu fit, sehingga paling tidak dua minggu sekali bisa membezuknya di asrama.

Sementara itu, Kika sibuk mempersiapkan diri untuk ujian kelulusan SMA dan mulai mengincar fakultas atawa jurusan yang diminati saat kuliah nanti. Bahkan beberapa waktu lalu ia berkesempatan ikut grand final KNSP 2012 di UI Depok, meskipun nilainya bikin ia nyengir dibandingkan peserta lain. Paling tidak, ia sudah pernah merasakan bagaimana susahnya merebut sebuah bangku kuliah.

~oOo~

Suara mercon-kembangapi dan terompet bersahutan terdengar dari dalam rumah. Jedar-jeder, toet-toet. Rupanya, cuaca mulai bersahabat dengan para calon penikmat malam pergantian tahun.

Kawan, selamat tahun baru 2013, semoga hidup kita semakin makmur.

(Visited 1 times, 1 visits today)