Misteri Candi Sukuh (2)

Letak Candi Sukuh dari Kota Karanganyar sekitar 20 km. Arah yang ditempuh jurusan Karangpandan, setelah terminal ada pertigaan ke arah Ngargoyoso. Kalau ke sana bawalah kendaraan yang sehat – tidak mudah rewel – karena jalan menuju ke Sukuh sangat terjal meskipun kondisi aspalnya sangat mulus. Rangkaian kunjungan ke Sukuh jangan lewatkan berkunjung ke Candi Cetho yang berjarak (lurus) sekitar 4 km dari Sukuh. Nah, kalau ke sana jalan aspalnya banyak yang rusak, jalannya jauh lebih terjal dibandingkan menuju Sukuh. Mata kita akan dimanjakan oleh pemandangan kebun teh yang asri.

Seperti yang saya pernah saya ceritakan sebelumnya di Misteri Candi Sukuh (1), kunjungan ke sana didorong oleh rasa penasaran setelah membaca novel Sukuh: Misteri Portal Kuno di Gunung Lawu.

Untuk masuk ke Candi Sukuh membayar tiket Rp 2.500 untuk turis lokal dan Rp 10.000 untuk turis asing. Di loket juga dijual buku tentang Candi Sukuh (fotokopian jilid 57 halaman) seharga Rp 10.000, lumayan untuk menambah pengetahuan dan wawasan mengenai Candi Sukuh.

~oOo~

Candi Sukuh baru ‘ditemukan’ pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Sir Thomas Stamford Raflles pada tahun 1815 pada saat pengumpulan data untuk penulisan buku “The History of Java.” Pada pahatan relief Candi Sukuh tertulis candra sengkalaGapuro Bhuto Anguntal Jalmo1/Gapura Raksasa Memangsa Manusaia” diketahui Candi Sukuh dibangun pada tahun 1437 Masehi. Hitungan kalender Jawa Gapuro = 9, Bhuto = 5, Anguntal = 3 dan Jalmo = 1, cara membaca angka ini dari kanan ke kiri atawa diperoleh angka 1359 Saka atawa 1437 Masehi (1 Saka = 78 Masehi).

Pada tahun 1437 Masehi adalah masa di mana Kerajaan Majapahit mulai runtuh karena masuknya pengaruh Islam. Dalam novel Sukuh, angka candra sangkala ini dipertanyakan, sehubungan dengan bentuk Candi Sukuh yang menyerupai piramida terpenggal. Dari mana orang-orang Majapahit memperoleh ide membuat candi yang bentuknya tidak lazim pada zaman tersebut? Bangunan Candi Sukuh lebih mengingatkan orang pada piramida-piramida yang ada di Amerika Tengah maupun yang ada di Mesir. Jangan-jangan candra sangkala ini rekayasa belaka? Ini benar-benar di luar kelaziman sebuah candi Hindu yang dibangun di akhir abad ke-15 Masehi, sebuah usia yang masih sangat muda. Candi Sukuh dan tiga situs kuno lainnya yakni Candi Cetho, Candi Kethek dan Candi Plagatan, di mana keempat situs kuno tersebut sama-sama menghadap ke arah Ka’bah, kiblat bagi muslim sedunia. Jangan-jangan yang membuat keempat candi tersebut sudah masuk Islam?

Kalau boleh saya berandai-andai, bisa jadi pada tahun 1437 Masehi Kementerian Kebudayaan dan Kepurbakalaan Kerajaan Majapahit berhasil menyelesaikan renovasi Candi Sukuh (yang sebelumnya runtuh akibat bencana alam, misalnya) dan diberi candra sangkalaGapuro Bhuto Anguntal Jalmo“.

Memang sih, perkara sejarah masuknya Islam ke Majapahit terdapat ketidakkonsistenan masalah waktu. Bukti Islam datang ke Nusantara setidaknya bisa ditemukan pada batu nisan Fatimah binti Maimun di Gresik Jawa Timur pada tahun 1082, sementara Kerajaan Majapahit sendiri baru berdiri pada abad ke 13. Rentang waktu ratusan tahun tersebut, tentunya Islam telah berkembang ke pelosok Jawa Timur termasuk pada awal berdirinya Majapahit. Jadi tidak benar dong kalau di akhir keruntuhan Majapahit Islam baru masuk ke wilayah Majapahit?

Bukti sejarah yang mendukung hal di atas misalnya, pada koin emas Majapahit terdapat kalimat syahadat dalam tulisan Arab. Pada lambang Majapahit yang berbentuk sinar matahari bersudut delapan di mana setiap sudutnya tertulis kata-kata dalam tulisan Arab: ma’rifat, shifat, asma, Adam, Muhammad, Allah, tauhid dan dzat. Delapan kata ini sangat bernuansa Islami. Konon, nama asli Gajah Mada adalah Gaj Ahmada. Sebuah nama yang juga bernuasa Islami. Kabarnya lagi, di batu nisan Gajah Mada terdapat tulisan kalimat syahadat. Dan sebagainya.

Kembali ke Candi Sukuh. Tak berlebihan memang jika menyebut Candi Sukuh sebagai candi erotis. Bentuk induk Candi Sukuh sendiri kalau dilihat dari depan menyerupai vagina. Di tengah bangunan candi terdapat celah/lorong sempit yang hanya bisa dilalui oleh satu orang. Celah ini berupa anak tangga yang ujungnya menuju ke puncak candi.

Di Candi Sukuh saya mencoba mengamati misteri-misteri yang diungkap di novel Sukuh, seperti adanya patung kura-kura yang menghadap kiblat, saya duduk (dengan pose pura-pura bersemedi) di puncak candi tempat di mana Prof. Sjoemandirgo mendapatkan koordinat portal kuno, dan saya bisa menyaksikan dengan jelas bukit piramida (tanda panah merah) yang disinyalir mengeluarkan sinar putih yang terekam satelit NASA di luar angkasa pada tahun 1995.

~oOo~

Perjalanan saya lanjutkan ke kompleks Candi Cetho. Kapan-kapan saya ceritakan ya.

Catatan kaki:
1 Dikutip dari buku fotokopian yang saya beli di loket Candi Sukuh. Di beberapa referensi, termasuk dalam novel Sukuh candra sangakala itu berbunyi “gapura buta abara wong” artinya sama, gapura sang raksasa memangsa manusia.