Mestinya, No Comment saja

Saya ceritakan kembali kisah hikmah tentang tokoh arif bijaksana yang bernama Nazaruddin Nasruddin Hoja.

Suatu ketika Nasruddin Hoja akan pergi ke pasar. Hari itu dia mengajak anak laki-laki satu-satunya. Mereka berdua ditemani oleh keledai kesayangan Nasruddin Hoja. Saat berangkat ke pasar, dia perintahkan anaknya supaya menaiki keledainya. Belum beberapa lama berjalan, bertemulah mereka dengan seseorang dan mereka ditegur oleh orang tersebut.

“Hai anak muda, kamu anak tak tahu diri. Bapakmu kamu biarkan berjalan kaki di belakangmu, sementara kamu enak-enak duduk di atas keledai,” katanya.

Anak Nasruddin Hoja pun turun dari keledainya untuk digantikan oleh bapaknya.

Setelah melewati sepuluh rumah, mereka bertemu lagi dengan seseorang yang sedang duduk-duduk di serambi rumahnya, lalu menegur Nasruddin Hoja.

“Hai Nasruddin, kamu orang tua tak tahu diri. Lihat anakmu yang kelelahan berjalan kaki di belakangmu, sementara kamu enak-enak duduk di atas keledai”, katanya.

Nasruddin Hoja pun turun dari keledainya. Bersama anaknya, dia menuntun si keledai.

Ketika mereka hampir sampai di pasar, mereka bertemu dengan pedagang ayam yang menegurnya.

“Dasar orang-orang yang bodoh, kenapa keledainya kalian tuntun saja, tidak dinaiki?”

Mereka diam saja kemudian masuk ke pasar untuk menyelesaikan urusannya. Ketika mereka istirahat di warung makan Nasruddin Hoja berkata kepada anaknya:

“Itulah salah satu sifat buruk manusia, selalu mencela sesuatu perbuatan orang lain yang sebenarnya bukan menjadi urusannya”.

 ~oOo~

Pernahkah Anda mengalami hal yang sama dengan Nasruddin Hoja dan anaknya? Misalnya, seminggu ini Anda lagi senang memakai baju berwarna putih, terus ada teman Anda yang berkomentar : “kok bajunya putih terus mas?” Atawa ketika di hari Senin Anda memakai baju batik, adakah yang menegur begini: “loh, ini kan bukan hari Jumat, kenapa pakai batik sih?”. Masih banyak contoh yang lain.

Jangan-jangan justru malah kita sendiri termasuk orang yang suka mencela orang lain?