Mendut dan Pranacitra

Tuwin garuda ing harga, lawan dara rukun lan sagunging kang sardula
Sebuah cita-cita Sultan Agung Hanyokrokusuma yang artinya garuda gunung berdamai rukun dengan merpati-merpati berserta para harimau.

Rara Mendut, budak rampasan yang menolak diperistri oleh Tumenggung Wiraguna demi cintanya kepada Pranacitra. Dibesarkan di kampung nelayan pantai utara Jawa, ia tumbuh menjadi gadis yang trengginas dan tak pernah ragu menyuarakan isi pikirannya. Sosoknya dianggap nyebal tatanan di lingkungan istana di mana perempuan diharuskan bersikap serba halus dan serba patuh. Tetapi ia tak gentar. Baginya, lebih baik menyambut ajal di ujung keris Sang Tumenggung daripada dipaksa melayani nafsu sang panglima tua.

Genduk Duku, sahabat Rara Mendut yang membantunya menerobos benteng Istana Mataram dan melarikan diri dari kejaran Tumenggung Wiraguna. Setelah kematian Rara Mendut dan Pranacitra, Genduk Duku menjadi saksi perseteruan diam-diam antara Wiraguna dan Pangeran Aria Mataram, putra mahkota yang kelak bergelar Sunan Amangkurat I dan sesungguhnya juga jatuh hati kepada Rara Mendut – perempuan rampasan yang oleh ayahnya dihadiahkan kepada panglimanya yang berjasa.

Lusi Lindri, anak Genduk Duku dipilih menjadi anggota pasukan pengawal Sunan Amangkurat I oleh Ibu Suri. Lusi Lindri menjalani kehidupan penuh warna di balik dinding-dinding istana yang menyimpan ribuan rahasia dan intrik-intrik jahat. Sebagai istri perwira mata-mata Mataram, ia tahu banyak – bahkan terlalu banyak. Semakin lama nuraninya semakin terusik melihat kezaliman junjungannya. Tiada pilihan lain! Bulat sudah tekadnya, baginya lebih baik mati sebagai pemberontak penentang kezaliman daripada hidup nyaman bergelimangan kemewahan.

“Gendukku, Lusi,” kata Kanjeng Ratu Ibu Suri lirih nyaris berbisik agak parau, seperti takut didengarkan abdi-abdinya yang harus menunggu di emperan gandok luar ruang ibunda Raja, “esok malam kau sekali lagi akan kuutus dengan tugas istimewa. Kanjeng Ratu Ibu membutuhkan kerahasiaan yang mutlak. Tak seorang pun sebelum saatnya, kecuali kalangan-kalangan tertinggi yang terbatas, boleh tahu ini. Untuk itu kau orangnya yang tepat. Kau pemberani, dan kau bukan lelaki yang biasanya riuh-ribut tetapi sulit dipercaya dia memihak mana. Lelaki selalu tergoda untuk singgah di warung-warung dan kalau sudah basah arak lidah mereka berbunyi tak terkendali seperti sayap-sayap jengkerik. Selain itu kau masih kencur sekali, tak akan mudah menarik perhatian. Anak hijau biasanya dianggap bukan orang yang dipercayai tugas penting. Sanggupkah kau melakukan ini demi Raja junjungan kita? Dan demi aku juga, Kanjeng Ratu Ibu? Jawablah, Gadis Lusi!” (hal 606).

~oOo~

Rara Mendut adalah kisah rakyat Jawa yang dituturkan dari mulut ke mulut yang berkembang dengan banyak versi. Kemolekan Rara Mendut telah memukau semua orang Mataram, termasuk Tumenggung Wiraguna seorang panglima perang Sultan Agung. Dia berani menolak keinginan Tumenggung Wiraguna yang ingin memilikinya. Ia berani terang-terangan untuk menunjukkan asmaranya kepada seorang pemuda pilihannya, Pranacitra. Tumenggung Wiraguna sangat marah dan iri kepada Pranacitra, dan mengharuskan Rara Mendut untuk membayar pajak kepada Mataram. Sadar akan kecantikannya, ia punya cara untuk menjual rokok yang sudah pernah dihisapnya dengan harga mahal kepada para lelaki siapa saja yang mau membelinya. Kisah cinta Rara Mendut dan Pranacitra berakhir tragis, mereka mati bersama. Demi sebuah cinta.
Rara Mendut di tangan Rama Mangun diciptabarukan, pengembangan dari kisah di dalam Babad Tanah Jawi dan berbagai sumber, sehingga tetap relevan untuk generasi masa kini. Novel Trilogi Rara Mendut karya YB Mangunwijaya ini diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama (2008) setebal 802 halaman.

(Visited 1 times, 1 visits today)