Kelindan Bumi dan Pelangi


Semua bunga mawar, meski sisi luarnya kelihatan seperti duri,
itulah cahaya dari belukar terbakar, meski kelihatannya seperti api!
– Jalaluddin Rumi –

Ruangan itu benderang oleh nyala lampu yang tersebar di mana-mana, semerbak wewangian melati dan mawar yang menghiasi dinding. Pendaran lampu menambah syahdu suasana pagi. Semua mata menatap sepasang pengantin, Bumi dan Pelangi yang sedang menghadap sang penghulu.

Mereka semua terlihat khidmat. Wajah Bumi dihiasi senyum manis, Pelangi sungguh ayu dengan kain putih yang membalut tubuhnya. Sebentar lagi, prosesi akad nikah sepasang pengantin itu dimulai.

“Saya nikahkan anak perempuan saya, Pelangi putri Semesta kepadamu, Bumi, dengan mas kawin 13 gram perhiasan emas beserta 3 kuntum mawar merah”

Suara Bumi mengalun, serak memecah keheningan ruangan itu, “Saya terima menikah dengan Pelangi, putri Semesta dengan mas kawin sebagaimana tersebut.”

Sang penghulu memandang Pelangi, “Apakah kau menerima Bumi sebagai suamimu?’

Waktu seakan berhenti berdetak sekian detik lamanya.

“Saya menerima,” kata Pelangi mantap mengeluarkan isi hati yang sesungguhnya. Namun, jantungnya seakan ingin lari dari dadanya.

“Kalian berdua telah sah menjadi suami istri”, penghulu mengumumkan pada semua orang.

Pelangi mencium punggung tangan Bumi, kening Pelangi terkecup bibir Bumi. Bunga-bunga warna-warni berguguran menebar wangi dan menampakkan keindahannya.

Malam tiba.

Di depan pintu kamar pengantin, selusin mawar kuning yang mungil mulai bermekaran menyambut kedatangan sang pengantin. Semerbak wangi bunga mereka hirup dengan senyuman. Mereka kini melintasi ambang pintu yang baru, memasuki wilayah tak dikenal dalam kehidupan mereka yang baru. Pelangi tersipu malu. Kemudian, Bumi meraih tangan Pelangi dan menciumnya. Hati mereka telah menyatu, terkunci jadi satu, pertanda hidup bersama yang akan mereka jalani.

“Pelangiku,” bisik Bumi, “tataplah aku”. Tangan Bumi menyentuh lembut bahunya. Temaram cahaya di kamar itu cukup bagi mereka berdua untuk saling bertatapan dan entah siapa yang memulai, mereka membiarkan diri hanyut dalam pelukan. Pelangi merapatkan tubuhnya erat-erat seakan takut kehilangan sesuatu yang telah dia temukan. Bumi pun menyambutnya, melindunginya.

Kembali, mereka saling menatap, embusan angin yang dahsyat seakan memenuhi ruangan, menyapu semua ketakutan, keraguan dan kegelisahan. Penuh kerinduan, tangan mereka saling bersentuhan, tubuh mereka menyatu. Inikah angin atau apikah yang menelan mereka?

Gelombang demi gelombang datang berdeburan membuat mereka semakin mendekat, semakin meneguhkan gelora di dada mereka. Hanya hembusan nafas mereka yang terdengar. Denyut sang Bumi oleh tarian sang Pelangi, sontak membuat laut berombak dahsyat dan menyatukan mereka.

Dengan berbisik, Bumi berkata, “Inilah sebuah anugerah, sebuah anugerah, istriku! Tubuh telah mengenal sang jiwa, jiwa telah mengenal sang tubuh”. Seorang lelaki dan perempuan, seutuhnya. Sebuah kebahagiaan. Keutuhan itu mengalir di sekujur tubuh mereka. “Untuk selama-lamanya,” balas Pelangi.

Mereka berbaring saling berpelukan. Kepala Pelangi rebah di dada suaminya.

Gelombang rasa syukur melimpahi Pelangi. Kepalanya segera terangkat dan dia meraih punggung tangan suaminya. Dia menempelkan tangan itu di pipinya.

“Terima kasih, suamiku”

“Terima kasih juga, istriku”

Note :
Tulisan ini terinspirasi dari buku “Rumi’s Daugther” karya Muriel Maufroy.

(Visited 3 times, 1 visits today)