Jokowi-Ahok, The Spirit of Bhineka Tunggal Ika

Saya pernah memperbandingkan perjalanan Joko Tingkir dan Joko Widodo dalam meraih kekuasaan, dalam artikel Jokoting dan Jokowi.

Setidaknya, menang di putaran pertama Pilkada DKI langkah Joko Widodo sudah seperti lakon Joko Tingkir dalam menaklukkan kemarahan banteng yang ngamuk di alun-alun Kerajaan Demak dan berhasil mendapatkan cinta sekar kedaton Demak yang berakhir menjadi menantu Sultan Trenggana. Nanti, pada takdir berikutnya Joko Tingkir duduk di singgasana raja sebagai Sultan Pajang. Entah dengan Joko Widodo, apakah ia nanti bisa mendapatkan kursi DKI-1.

~oOo~

Sesungguhnya cara Jokowi-Ahok memilih baju kotak-kotak sebagai pakaian seragam pilkada menuju DKI-1 adalah tindakan yang sangat cerdas. Konon, pemilihan baju motif kotak-kotak berwarna-warni menggambarkan rakyat Jakarta yang beragam. Dari Sabang sampai Merauke tumplek-bleg di Jakarta, kota yang merupakan representasi Indonesia yang ber-Bhineka Tunggal Ika.

Biasanya, para calon – entah itu legislator, bupati, walikota, gubernur bahkan presiden – selalu menampilkan diri sebagai sosok yang alim yang ditandai dengan berpose menggunakan kopiah, baju koko dan di depan nama mereka disematkan huruf kapital H ditambah sederet gelar akademis (meskipun setelah mereka duduk sebagai pejabat, huruf kapital H dan gelar-gelar akademis tersebut tak mampu membimbingnya di jalan yang benar, misalnya mereka tetap korupsi atawa tindakan tercela lainnya).

~oOo~

Bung Karno pernah melontarkan istilah JASMERAH, jangan sekali-sekali melupakan sejarah! Mari, saya bawa Anda ke masa di mana Laksamana Haji Cheng Ho – utusan Kaisar Tiongkok – melakukan lawatan dengan armada kapal yang sangat besar menuju Nusantara.

Dalam catatan sejarah Tiongkok, Ceng Ho melaksanakan tugas perjalanan muhibah Ming ke negeri selatan dan barat sebanyak tujuh kali dengan kapalnya yang luar biasa besarnya. Dalam muhibah tersebut Kaisar Ming membuat 208 kapal, armada dan orang bersenjata sebanyak 28.000 orang dan mempersiapkan dana pelayaran yang besar untuk 7 kali mengarungi laut dari Laut Cina Selatan sampai ke Jawa.

Dalam perjalanan muhibah tersebut kapal Laksamana Haji Ceng Ho singgah di pelabuhan-pelabuhan Nusantara. Tak sedikit para penumpang kapal minta izin kepada Cheng Ho untuk tinggal di wilayah di mana kapal-kapal tersebut singgah. Mereka yang tinggal akan beranak-pinak berbaur  dan bergaul dengan masyarakat asli. Mereka yang datang membawa adat-budaya yang berbeda saling berinteraksi dengan budaya lokal dan lama-kelamaan terbentuk suatu tradisi baru. Maka tak heran, jika banyak budaya lokal terdapat warna budaya Tiongkok, termasuk budaya Betawi.

Dikutip dari Pengaruh Budaya Tionghoa dalam Budaya Betawi: Menurut Raden Aryo Sastrodarmo, seorang pelancong Surakarta di Batavia pada tahun 1865, dalam Kawontenan ing Nagari Betawi, seperti dikutip Ridwan Saidi dalam Profil Orang Betawi: Asal Muasal, Kebudayaan dan Adat Istiadatnya, adat-istiadat Betawi mirip adat-istiadat Tionghoa. Cara orang Betawi memperkenalkan diri juga seperti orang Tionghoa. Cara mereka duduk dan bercakap-cakap juga sama dengan Tionghoa yaitu duduk di kursi, dan jika makan memakai meja, tidak bersila di atas tikar yang terhampar di tanah. Orang Betawi juga belajar silat dari orang Tionghoa. Orang Betawi tidak punya rasa takut (alias pede?) disebabkan pengaruh orang Tionghoa.

~oOo~

Jadi, kenape harus menolak Jokowi-Ahok untuk memimpin Jakarte dengan main lempar isu-isu yang menyangkut SARA? Biarkan aje ntar rakyat Jakarte memilih pemimpinnye pake nuraninye.

(Visited 1 times, 1 visits today)