Intafa’a

Jumat berkah.

Seorang kawan saya yang bekerja di perusahaan otomotif berkirim SMS, akan bertamu sebelum jumatan: “Mau mbayar utang, Mas!”

Beberapa bulan yang lalu, ia pinjam uang kepada saya lima juta untuk membayar UKT anaknya yang masuk seleksi PTN. Kebetulan waktu itu saya memang sedang pegang uang cash, setelah mendapat arisan mingguan yang saya ikuti dengan potong uang makan. Belum juga uang tersebut saya manfaatkan, datang kawan saya itu menyampaikan hajatnya kalau lagi butuh uang untuk urusan sekolah anaknya.

“Alhamdulillah Mas, perusahaan saya ngasih bonus. Meskipun tidak sebesar tahun kemarin, maklum penjualan mobil lagi turun,” ujarnya.

Saya menerima bendelan uang seratus ribuan yang dimasukkan ke amplop warna coklat itu.

“Perusahaanmu akhir tahun ini ada bonus nggak, Mas?” tanyanya. Saya hanya mengangkat bahu dan tersenyum. Hidup mesti disyukuri, ada atau nggak ada bonus dari perusahaan. Toh, setiap saat Gusti Allah memberikan bonus yang tiada terkira banyaknya.

***

Pulang dari jumatan, saya dicegat oleh Pak Lis, seorang kolega satu kantor. Dengan bahasa Jawa halus ia memohon waktu sejenak untuk bisa bicara. Ia saya bawa ke ruangan saya, kemudian ia menyampaikan hajatnya.

Pak Lis mempunyai hajat pergi umroh. Sejak tahun lalu ia telah mencicil pembayaran umroh. Kemarin ia diingatkan oleh pengelola travel umroh untuk melakukan pelunasan paling lambat tanggal 21 Desember 2015.

Kurange pira, Mas?” tanya saya.

Gangsal yuta,” jawabnya.

Kemudian ia bercerita kalau bulan Februari 2016 nanti ia akan mendapatkan giliran narik arisan sejumlah lima juta rupiah. Untuk itu ia mengajukan proposal ke saya, kalau mau pinjam lima juta dengan jaminan tarikan arisan tersebut.

“Ya wis dadi rejekimu, Mas. Saya ada uang lima juta,” kata saya.

“Alhamdulillah…!” matanya berbinar sedikit berkaca-kaca.

“Nanti saya transfer ke rekening travel,” cetus saya.

“Kalau ada cash saja, Pak!” pintanya.

Ora!” jawab saya singkat.

Kemudian ia saya minta mencari info nomor rekening tujuan. Saya tak mau urusan pelunasan biaya umrohnya meleset. Seperempat jam kemudian ia memberikan nomor yang saya minta.

Saya mengajaknya ke sebuah bank yang kebetulan ada di kompleks perkantoran saya dengan tak lupa membawa amplop coklat yang berisi uang lima juta rupiah yang beberapa jam lalu dibawa kawan saya yang bekerja di perusahaan otomotif yang tahun ini perusahaannya membagikan bonus kepada para karyawannya.

Ia tersenyum bahagia. Saya juga.