Ibu dan buku

Saya menyadari kalau ibu suka membaca, sejak saya sekolah di tingkat SD dulu. Ia suka berpesan supaya saya atau adik-adik saya pinjam buku di perpustakaan sekolah dan ibu akan ikut membaca buku yang dipinjam tersebut.

Kebiasaan suka membacanya berlangsung hingga sekarang. Ia tak memilih jenis bacaan, apa pun ia baca. Saat ini ia mengoleksi beberapa buku tebal di lemarinya, yang semuanya telah rampung ia baca. Anak-anak ibu yang memasok buku bacaan kepadanya.

Ia sendiri tak berpendidikan tinggi, hanya sampai level SMP saja. Ia dulu sekolah di SKP, Sekolah Kepandaian Putri. Tak hanya sekedar membaca, namun ia memahami isi buku tersebut. Satu hal yang membikin saya terkejut ketika ia menceritakan buku-buku Ali Audah seri Nabi Muhammad dan keempat sahabatnya pada suatu kesempatan. Rupanya khusus untuk buku Nabi Muhammad ia bahkan membaca ulang.

Saya kalau sedang ke toko buku, saya suka membeli dua buku yang sama sekaligus. Satu buku nanti saya kirimkan ke ibu. Saya dan adik juga memasok novel-novel karya Pak Langit Kresna Hariadi/LKH seperti Pentalogi Gajah Mada, Seri Majapahit, Menak Jinggo dan sebagainya untuk teman ibu di kala senggang.

Tempo hari pas saya bertemu dengannya di Jakarta, ia bercerita kalau habis dikunjungi oleh LKH. Kok bisa? Selain memang LKH tinggal di Karanganyar, LKH telah lama bersahabat dengan salah satu adik saya. Kebetulan kemarin itu adik saya pulang kampung dan janjian ketemuan dengan LKH di rumah.

Ibu bercerita kepada LKH kalau ia penggemar setianya. Sebagai bukti, ia tunjukkan buku-buku LKH yang tersusun rapi di rumahnya. Konon, sempat terjadi diskusi singkat namun hangat mengenai kisah Gajah Mada dan latar belakang LKH “memulihkan nama baik” Menak Jinggo.

Saya memerhatikan kalau aktivitas ibu dengan banyak membaca buku telah menghindarkan dirinya dari serangan penyakit pikun. Ia juga termasuk pecinta buku sejati, sebab buku-buku yang telah ia baca tak terlihat lecek atau terlipat-lipat, tetapi tetap dalam kondisi rapi dan mulus.