Doa Setan yang Dikabulkan Tuhan

 

Di suatu ruang ICU sebuah rumah sakit, tergeletak seorang yang saleh, detak jantungnya mulai melemah sudah tidak sadarkan diri. Di sana sudah datang malaikat pencabut nyawa yang telah siap melaksanakan tugas rutinnya. Sementara di sudut ruang ICU itu, ada satu setan yang tengah khusyuk berdoa. Malaikat berpaling ke arah setan.

Malaikat: apa yang kamu lakukan di situ?
Setan: aku sedang berdoa, minta kepada Tuhan supaya menunda kematian orang saleh itu
Malaikat: ah, kamu jangan mengada-ada saja deh. Tuhan sudah memerintahkan kepadaku untuk mengambil nyawa orang ini dalam hitungan 5 menit ke depan
Setan: tolong, kamu tunda dulu. Aku belum mendapatkan jawaban atas doaku
Malaikat: maaf, aku patuh dengan perintah Tuhan. Tidak mungkin bagiku untuk mengabaikan perintahNya.

Waktu 5 menit pun tinggal beberapa detik lagi, malaikat pencabut nyawa akan segera menyelesaikan tugasnya. Tetapi tugas itu tertunda, karena Tuhan berkehendak lain. Tuhan telah mengabulkan doa si setan.

Setan: kamu dengar bukan, Tuhan telah mengabulkan doaku. Segeralah kamu pergi dari tempat ini.
Malaikat: by the way, apa sih alasanmu mendoakan orang ini supaya tidak mati saat ini?
Setan: ketahuilah kawan, aku masih penasaran dengan orang saleh ini. Segala daya dan upaya  telah aku kerahkan, supaya orang ini mengikuti bisikanku. Hebat benar imannya. Dalam doaku tadi, aku minta kesempatan sekali lagi kepada Tuhan untuk menggoda orang ini.

Sebulan kemudian orang saleh sudah segar bugar seperti sedia kala. Saatnya setan beraksi menggelincirkan jalan orang saleh. Untuk melancarkan aksinya, setan merasuk ke dalam raga perempuan jelita. Cara ini belum pernah dicobanya untuk menggoda orang saleh. Dia yakin, orang saleh bakal terpedaya olehnya.

Perempuan jelita itu pun mulai menggoda lelaki saleh. Aneh, lelaki itu bergeming, tidak goyah imannya. Setan mulai putus asa. Dia tinggalkan lelaki saleh untuk mengadu kepada atasannya, Iblis Yang Dilaknat. Sangat mengherankan, setan yang keluar dari rumah Iblis Yang Dilaknat itu tersenyum bahagia. Rupanya dia telah mendapatkan petunjuk dari atasannya.

Dia kembali merasuk ke dalam raga perempuan jelita tadi. Sekali lagi, dengan rayuan mautnya dia kembali menggoda lelaki saleh. Dan dia kalah lagi, bahkan lelaki itu marah kepadanya.

Si Jelita: baiklah, aku menyerah tidak merayumu lagi. Untuk menebus kesalahanku padamu, aku berikan minuman ini. Tentu kamu haus, minuman ini akan menyegarkan tubuhmu. Coba kamu minum ini.
Si Saleh: minuman apa itu? Pasti minuman yang terlarang bagiku.
Si Jelita: kamu coba dulu, sedikit saja juga tidak apa-apa. Aku akan senang kamu mau menerima tawaranku ini. Kamu jangan membuatku sedih begitu ya. Terimalah kebaikanku ini.

Lelaki itu luluh juga, diteguknya minuman itu. Sebentar saja telah menyegarkan tubuhnya. Dia minta dituangkan lagi ke dalam gelasnya, diteguknya lagi. Minuman yang memabukkan itu terus saja memasuki kerongkongannya. Fikirannya mulai melemah, matanya merah nanar menatap penuh nafsu kepada perempuan jelita yang ada di hadapannya. Dilucutinya semua pakaiannya, dua makhluk berlainan jenis itu bergumul memuaskan hasratnya. Letih, akhirnya terlelap dalam senyuman. Setan tertawa-tawa dalam kegembiraannya.

Begitu lelaki itu tersadar, dilihatnya perempuan jelita tergolek di sampingnya tanpa selembar pakaian pun di tubuhnya. Orang saleh kaget bukan kepalang, keadaannya juga sama dengan perempuan itu. Digoyang-goyangkan tubuh perempuan itu, dia tampar pipi putihnya. Perempuan jelita kaget, dari mulutnya keluar darah segar. Lelaki itu mengucapkan sumpah serapahnya, dia menyalahkan perempuan itu yang telah membuatnya berbuat dosa. Nafsu amarah semakin menguasai hatinya. Dicekiknya leher perempuan jelita. Mati. Setan yang menyaksikan perbuatan itu, bertepuk tangan karena bahagia.

Lelaki saleh tidak kuat membawa beban malu. Beberapa jam lalu, dia masih seorang yang saleh, kemudian berubah menjadi seorang pemabuk, lalu menjadi seorang pezina, kini menjadi seorang pembunuh. Dia menengadahkan kepala ke langit, protes kepada Tuhan yang telah membiarkan perbuatannya. Dengan langkah gontai, dia mendekati rel kereta api. Dia bunuh diri.

“Selamat datang di istana kami, kawan”, kata setan dengan ramah ketika menyambut lelaki yang kini sudah tanpa raga itu.