Doa Lila yang terkabul

Prolog

Kira-kira 4 atau 5 bulan lalu, saya lungsurkan sepatu converse saya ke Kika yang kebetulan ukurannya pas di kakinya. Jika main keluar rumah, Kika suka memakai sepatu itu. Diam-diam Lila memendam keinginan untuk memiliki sepatu converse juga. Pada suatu kesempatan ia utarakan isi hatinya kepada saya, dan hanya menjanjikan nanti kalau kakinya sudah cukup besar bolehlah memiliki sepatu idamannya itu. Saya juga menjelaskan, kalau dia cepat sekali tumbuh besar sehingga kalau beli sepatu converse seukuran kakinya, bisa-bisa dalam hitungan hari sepatu itu akan terasa sesak di kakinya. Padahal yang sesungguhnya pertimbangan utama menunda pengadaan sepatu converse perkara harganya yang di atas rata-rata itu.

Pusat bumi, 21 Juni 2010

“Pap, berdoa di depan Ka’bah cepet dikabulkan Allah ya?” tanya Lila.

“Ya, kamu harus yakin itu. Kamu bisa berdoa saat tawaf atau habis shalat nanti,” jawab saya sambil menggandeng tangannya menuju sekitar lampu hijau, sebuah tanda di mana dimulainya prosesi tawaf.

“Apa pun doa itu?” tanyanya lagi.

“Yup!” jawab saya singkat.

Di sebuah Dept. Store, akhir Juli 2010

“Mam, sepatu ini loh yang aku taksir,” ia melepaskan tangannya dan mengambil sepatu converse warna biru seukuran kakinya.

“Kamu mau? Ambil saja yang pas dengan ukuran kakimu!” kata mamanya, ringan saja tanpa ada kalimat bernada¬†menunda keinginan Lila.

Di perjalanan pulang.

“Tengkiu ya Mam, untuk converse-nya,” kata Lila.

“Tahu nggak Mam, doa Lila terkabul hari ini,” sela Kika,¬†“Waktu itu dia berdoa di depan Ka’bah supaya dibelikan sepatu converse!”

Sangat mudah bagi Gusti Allah mengabulkan keinginan seseorang.

Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu (QS 40:60)