Cupumanik Astagina pembawa bencana

Putri nan elok rupawan itu bernama Anjani, anak keturunan Resi Gotama yang kawin dengan bidadari bernama Windradi. Pantes saja cantik, wong keturunan bidadari, je. Anjani mempunyai saudara kembar, nama masing-masing adalah Sugriwa dan Subali. Mereka dikenal juga bernama Guwarsa dan Guwarsi. Keduanya tampan, yang mestinya juga pengaruh dari ibunya yang bidadari itu.

Pada suatu hari, Anjani dipanggil ibunya dan diberi hadiah yang berupa cupu (berbentuk semacam guci air). Anjani menerima pemberian itu, namun ia penasaran dengan benda yang berwarna hitam itu.

“Cupu ini untuk apa, ibu?” tanya Anjani.

“Ini cupu ajaib anakku, namanya Cupumanik Astagina. Pemberian Bathara Surya ketika pesta perkawinan ibu dengan ayahmu dulu. Coba kamu buka tutupnya!” tukas Windradi.

Anjani pun segera membuka cupu itu, dan keluarlah cahaya dari dalamnya.

“O, cahaya apa ini?” Anjani terkejut dan menyerahkan cupu itu kepada ibunya.

“Jika kepalamu kena cahaya ini, kamu bisa menyaksikan semua peristiwa di muka bumi ini, bahkan sampai langit lapis tujuh. Bahkan kamu bisa menyaksikan fikiran-fikiran seseorang yang ingin kamu ketahui,” tutur ibunya.

“Eh, ini seperti baskom pensieve-nya Profesor Albus Dumbledore, ya bu?” tanya Anjani.

Pensieve? Profesor Albus Dumbledore? Siapa itu?” tanya Windradi dengan jidat berkerut.

~oOo~

Kini, Anjani punya kesibukan baru yaitu bermain-main dengan Cupumanik Astagina pemberian ibunya. Ia begitu menikmati peristiwa-peristiwa yang sebelumnya tidak pernah ia ketahui. Kadang ia tertawa ketika menyaksikan kejadian lucu di masa lalu, malah kadang terlarut dalam kesedihan jika peristiwa itu tergolong kejadian tragis. Anjani seperti bermain di lorong waktu.

Syahdan, saudara kembar Anjani ternyata mengamati tingkah lakunya itu. Sejak memiliki Cupumanik Astagina, Anjani jarang lagi bersenda-gurau dengan Sugriwa-Subali. Hal itu membuat geram hati keduanya. Lalu, mereka merencanakan merebut Cupumanik Astagina dari tangan Anjani.

Dalam satu kesempatan, Sugriwa dan Subali berhasil merebut Cupumanik Astagina. Tentu saja, Anjani marah dan menangis terus menerus. Akhirnya Sugriwa-Subali mengembalikan Cupu tersebut, namun tanpa setahu Anjani mereka mengadu kepada ayah mereka, Resi Gotama.

“Anjani, dari mana kamu dapatkan Cupu ini?” tanya Resi Gotama.

“Hadiah dari ibu, ayah!” jawab Anjani.

Resi Gotama bertanya dalam hati dari mana istrinya mendapatkan Cupu sakti itu. Ia pun memanggil istrinya dan bertanya asal Cupu tersebut. Tetapi, Windradi diam. Ia tak mau mengaku dari mana Cupu tersebut didapatkan. Hal itu membuat Resi Gotama marah, dan mengutuk Cupu tersebut menjadi sebuah batu hitam.

Dengan kesaktiannya, batu hitam itu dibuangnya jauh-jauh hingga jatuh di tengah hutan. Batu hitam tersebut pecah menjadi dua, dan tempat jatuhnya pecahan batu berubah menjadi dua telaga, Sumala dan Nirmala.

Sugriwa-Subali dan Anjani yang penasaran ingin memiliki Cupumanik Astagina berlari mengikuti ke mana batu hitam tadi jatuh. Setelah berhari-hari tidak menemukan Cupumanik Astagina, mereka kehausan. Kebetulan mereka berada di dekat telaga Sumala. Tanpa pikir panjang, mereka meminum air telaga tersebut.

Namun apa yang terjadi kepada ketiganya?

Serta merta wujud mereka berubah menjadi kera. Sugriwa-Subali meraung, menyesali apa yang terjadi. Mereka berdua segera meninggalkan telaga Sumala dengan wujud sebagai kera. Sementara itu, Anjani masih menangis di tepi telaga. Ia memohon ampun kepada Dewa supaya mengembalikan wujud aslinya, sebagai putri nan jelita. Tak semudah itu Dewata mengabulkan permintaannya.

Setelah sekian lama berdoa, Anjani mendengar suara dari langit. Ia diperintahkan pergi ke telaga Nirmala untuk laku-tapa. Ia harus bertapa laksana seekor katak, diam-jongkok di tepi telaga. Sungguh syarat yang sangat berat. Tetapi Anjani berketetapan hati memenuhi titah Dewata.

Sudah menjadi takdir Anjani. Dalam rasa lapar yang sangat, di depannya hanyut selembar daun kelor. Ia segera menjulurkan lidahnya dan memakan daun itu. Daun kelor itu bukan sembarang daun, tetapi daun yang dikirimkan oleh Bathara Guru yang bersimpati kepada laku-tapa Anjani.

Tak lama setelah memakan daun kelor itu, maka Anjani pun mengandung jabang bayi. Dengan telaten ia rawat bayi dalam kandungannya itu. Arkian, setelah tiba waktunya lahirlah bayi Anjani: seekor kera putih yang tampan. Anjani memberi nama kepada anaknya itu Hanoman.

Akhirnya, Anjani mendapatkan pengampunan Dewata. Ia kembali berwujud manusia nan jelita. Namun, Dewata menghendakinya hidup di kahyangan, bukan di dunia.

Cuthel.

(Visited 1 times, 1 visits today)