CLBK-nya Limbuk

Tak ada satu lelaki pun yang mampu mengisi kekosongan hati Limbuk kecuali Bagong. Loh, bukannya Bagong tempo hari telah memutuskan cintanya? Limbuk sedang kena sindrom CLBK: Cinta Lama Belum Kelar.

Limbuk sempat lupa rasanya jatuh cinta gara-gara cara Bagong memutuskan cinta demikian mengejutkan. Kini, Limbuk merasakan jatuh cinta jilid kedua kepada lelaki yang sama. Gila betul yang dirasa, ia ingin segera bertemu dengan Bagong. Melihat saja cukup, setidaknya bisa mengobati rasa kangen. Bayangkan saja, kangen yang ia derita membuatnya menangis siang dan malam.

Kalau sudah begitu, pangkuan simboknya yang bisa menenteramkan gejolak hatinya. Cangik sudah paham dengan perilaku anak kesayangannya itu.

“Kamu ndak usah gengsi to nDuk. Kalau rasa kangenmu pada Bagong sudah menyesakkan hati, mbok kirim BBM atau wotsapan dengannya. Wong zaman sudah semakin mudah begini. Beda dengan zaman simbokmu dulu, waktu pacaran sama bapakmu mana ada yang namanya henpon? Semoga orang yang menciptakan henpon dan aplikasinya mendapatkan kemudahan dalam segala urusannya,” Cangik mulai ngaya-wara kalau berbicara.

“mBok, kangenku pada Mas Bagong ndak bisa ditolak kedatangannya. Tiba-tiba hatiku dipenuhi rindu, bahkan sering tumpah karena ndak muat lagi menahan beban rindu. Piye iki mBok?” Limbuk merajuk.

Cangik membetulkan letak susur di bibirnya.

“Kamu masih menyimpan nomer henponnya Bagong toh? Nanti kamu menghubunginya, tapi jangan bertubi-tubi langsung nerocos mengumbar kalimat-kalimat rindu. Bikin ia nyaman ketika kamu ajak berkomunikasi,” papar Cangik.

“Sampai Mas Bagong mau menerima penjelasanku ya mBok?” tanya Limbuk.

“Tul. Untuk saat ini kamu mesti menghindari dulu tempat-tempat yang dulu sering kalian datangi bersama. Tempat seperti itu kan bikin kangenmu menggelegak toh? Pokoke, biasakan melewati hari-harimu tanpa kehadiran Bagong,” lanjut Cangik.

“mBok, kalau kangen sedang menyiksa, aku pengin banget teriak sekeras-kerasnya! Biar hatiku plong,” ujar Limbuk sambil memainkan ujung kain simboknya.

“Tapi yang kamu rasakan plong atau makin kangen? Hatimu tambah tenteram atau makin tersiksa? Terus, jika kamu berteriak kencang apa mas Bagongmu itu tiba-tiba muncul di sampingmu?” tanya Cangik bertubi-tubi.

Limbuk bingung menjawabnya.

“Terus, piye mBok? Apa aku mesti mengumbar rasa kangenku di media sosial, biar Mas Bagong kalau membacanya, ia juga akan tersiksa oleh teriakan kangenku? Aku takut Mas Bagong punya pacar yang baru,” isak Limbuk.

“Kamu percaya saja kalau Mas Bagongmu itu lelaki setia. O, iya intinya kamu tadi minta nasihat simbok mengenai obat kangen. Obat paling mujarab ya ketemu dengannya. Tapi kalau ndak memungkinkan, sementara rasa kangenmu sudah di ubun-ubun, ya menangislah, nDuk. Tidak malu-maluin kok,” papar Cangik seperti psikolog cinta.

“Iya sih mBok. Dengan menangis aku sudah agak lega,” sahut Limbuk.

“Tapi ya jangan sering menangis. Itu namanya bocah gêmbèng. Camkan kata-kata simbok ini, rasa kangen jadi ukuran seberapa besar rasa cintamu padanya!” kata Cangik serius.

“Mas Bagong….. aku KBN!” teriak Limbuk.

Note:
Kisah di atas adalah salah satu bab dalam draft naskah novel wayang slenco yang sedang saya bikin. Judul novel masih juga belum ketemu.

(Visited 1 times, 1 visits today)