Pergilah, biar aku merasakan rindu!

Lanjutan dari: O, menikahlah denganku

Suasana keputren istana Dwarawati sepi. Para prajurit yang seharusnya menjaga wilayah yang khusus diperuntukkan bagi para putri kerajaan itu pada asyik menonton pertarungan Gatotkaca vs Baladewa yang memang sangat seru dan mendebarkan jantung siapa pun yang menyaksikannya.

Syahdan, kesempatan tersebut dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh Abimanyu untuk menemui tambatan hatinya. Sangat mudah baginya untuk sampai di kamar Siti Sundari. Mereka cepat bertindak untuk keluar dari keputren. Kemudian suasana di sana semakin senyap saja.

Sementara itu, Kresna sebagai tuan rumah merasa sangat malu sebab tidak bisa menjamin kenyamanan para tamunya. Tetapi begitu melihat pertarungan antara kakak dan keponakannya ia tak bisa tinggal diam. read more

O, menikahlah denganku

Diam-diam terjadi jalinan kisah asmara antara Siti Sundari dengan Abimanyu. Sejak Pandawa dalam masa pembuangan 13 tahun, Arjuna menitipkan Abimanyu – buah perkawinannya dengan Supraba – dalam pengasuhan Kresna. Hubungan kekerabatan antara Abimanyu dan Siti Sundari masih tergolong sepupuan, sebab Kresna merupakan pakdenya Abimanyu.

Karena mereka saling bertemu saban harinya, cinta mereka bersemi dan tumbuh dengan suburnya. Tentu saja, Kresna mengetahui hubungan tersebut dan ia sangat menyetujui jika ia kelak berbesanan dengan Arjuna.

“Aku akan melamarmu, dik!” ujar Abimanyu pada suatu senja.

***

Sementara itu di Hastinapura, Lesmana Madrakumara sedang merayu ayahnya untuk melamarkan seorang gadis untuk dijadikan istri. Luka hati Lesmana belum sembuh betul ketika minggu lalu cintanya ditolak mentah-mentah oleh Pergiwa, gadis hitam manis yang lebih memilih Gatotkaca menjadi jodohnya. read more

Hutang rindu dibayar rindu #3

Tiba-tiba muncul Panglima Sutakasi dan pasukan pemberontak meringsek masuk ke alun-alun dengan sengaja lengkap. Semua orang terkejut dan terkecuali raja sendiri.

“Berikan pedangmu, wahai Raka Paranggelung sebagai tanda taklukmu kepadaku!” teriak Sutakasi.

Raja Paranggelung beranjak dari kursinya. Pedang tergenggam di tangan di kanannya. Ia berjalan pelan ke arah Sutakasi dengan cara menunduk. Sebuah sikap penyerahan diri.

Panglima Sutakasi mongkog hatinya, sebab sebentar lagi ia menerima tanda takluk Raja Paranggelung. Namun, Sutakasi salah duga. read more