Satrio Kelara-lara

Lelaki yang duduk di depan saya ini berwajah sangat kuyu, kelihatan lebih tua sepuluh tahun padahal umurnya sebaya dengan saya. Semalam, dia datang ke rumah pinjam uang untuk membelikan buku untuk anaknya.

Satu setengah tahun lalu, dia masih gagah perkasa. Energik. Sebagai general manager di sebuah perusahaan PMA, penghasilannya bisa untuk hidup di atas rata-rata dibanding tetangga kiri kanannya. Kini, dia tengah menjalani hidup sebagai Satrio Kelara-lara.

Ini bermula ketika terjadi euphoria per-caleg-an. Saya tidak tahu persis proses masuknya dia ke dunia partai politik. Hanya saya mendengar kalau teman yang satu ini mendaftar sebagai caleg, bahkan untuk mendapatkan nomor urut 1 dia harus merelakan mobilnya. Hukum alam pun berlaku : ada gula ada semut. Banyak orang yang menawarkan diri sebagai tim suksesnya.Tiada hari tanpa penggalangan massa, dan itu membutuhkan banyak biaya. read more

Satu Blog Seribu Hikmah

Nostalgia dulu. Saya bersentuhan dengan dunia tulis-menulis dimulai sejak SMA dulu. Tulisan karya saya pertama kali dimuat di Majalah Media Pelajar (biasa disebut dengan MOP) terbitan Semarang. Senangnya bukan main. Selain dapat honor, saya juga mendapatkan banyak Sapen (sahabat pena). Keaktifan menulis memuncak saat jadi mahasiswa, beberapa media lokal terbitan Semarang dan Yogyakarta memuat tulisan sederhana saya. Kalau untuk media nasional semacam Kompas atau Tempo, tulisan saya cuma mampu nangkring di rubrik Surat Pembaca. Kurang lebih ada sepuluh tulisan saya yang dimuat di Surat Pembaca Majalah Tempo. Senangnya bukan main.

Ketika jadi pengurus SEMA dulu, saya pegang penerbitan fakultas dan penerbitan dakwah fakultas selama dua tahun. Saat itu masih menggunakan mesin ketik manual, dan di akhir masa tugas saya baru mengenal program WS4. Bangganya bukan main ketika melihat teman-teman antusias membaca media karya saya dan kawan-kawan di bagian penerbitan. read more

Berpikir dan Bertindak Kreatif di Jaman Susah

Di tengah hujan yang lebat yang disertai angin, lewatlah sebuah mobil dikendarai oleh seorang lelaki muda. Ketika dia melewati sebuah halte dilihatnya ada 3 orang yang bermaksud menumpang mobilnya. Dia pun keluar dari mobil, oh.. ternyata 3 orang tadi dia mengenalnya dengan baik.

Orang pertama, seorang bapak yang pernah membantunya hingga sukses seperti sekarang ini. Orang kedua, seorang nenek yang sedang sakit, dia ini pernah jadi induk semangnya ketika dia kost dulu, sedangkan orang ketiga, perempuan cantik yang saat ini sedang diincar untuk dijadikan istrinya. Dia ingin menolong ke 3 orang tersebut, tapi apa daya mobil yang dia punya hanya muat untuk 2 orang saja. Intinya, dia harus memilih 1 dari ke 3 orang tersebut.

Di tengah situasi seperti itu, ternyata kawan kita yang satu ini berpikir kreatif. Dari ke 3 orang tersebut, siapa yang dipilih? Bapak yang dermawan, nenek yang sedang sakit atau si cantik? Kawan kita menyelesaikan persoalannya begini : Dia minta bapak yang dermawan itu membawa mobilnya, bersama-sama dengan nenek yang sedang sakit itu, sementara dia akan menemani si cantik di halte sambil menunggu hujan reda, tentunya sambil pedekate! read more