Guruku Cantik Sekali

Juli 1980

Hari itu saat pertama saya duduk di bangku SMP. Seragam sekolah SMP jaman saya dulu, atas putih celana (pendek) warna khaki. Saya di kelas 1B, teman sekelas ada yang teman di SD dulu, tiga atawa paling banyak empat orang.

Seorang guru memasuki kelas. Perempuan cantik, yang campur aduk antara manis dan wajah memesonakan yang melihatnya. Perawakannya termasuk kecil dibandingkan ibu saya. Ketukan sepatunya saja sudah terdengar merdu. Ia berjalan mendekap sebuah buku besar bersampul batik hijau, sementara bahu kanannya tersampir tasnya. Ia memakai seragam guru berwarna abu-abu tua.

“Selamat pagi anak-anak!” sapanya ramah, soalnya ia menyertakan senyuman manis dan hangatnya. Suaranya tidak stereo, tapi agak-agak sengau (mirip-mirip suaranya Fifi Aleyda Yahya atawa Fessy Alwi, keduanya penyiar Metro TV), membuat saya betah mendengarkan setiap uraiannya. read more

Biar Peta yang Bicara

Beberapa waktu yang lalu, adik kelas saya di masa kuliah mengirimkan sebuah kaos bertuliskan “Biar Peta yang Bicara”. Ya, kaos itu seakan mengingatkan kembali disiplin ilmu yang saya ambil ketika kuliah dulu yaitu Kartografi yang secara mudahnya disebut juga ilmu membuat peta atau atlas. Peta yang dibuat pun berbagai macam tergantung temanya, mau yang menampilkan data fisik seperti peta topografi, peta hidrologi dan sebagainya atau tema sosial-ekonomi seperti peta sebaran penduduk misalnya.

Hampir dua puluh tahun saya murtad dari disiplin ilmu Kartografi. Dulu ketika membuat selembar peta masih saya lakukan secara tradisional yaitu menggunakan pena dan kertas. Kini, cara pembuatan peta sudah sedemikan canggih, serba komputer dan tentu saja karena kemurtadan tadi, saya babar blas tidak bisa mengikuti perkembangan kecanggihan pembuatan peta. Meskipun begitu, peta tidak bisa lepas dari kehidupan saya sehari-hari baik untuk urusan kantor maupun urusan pribadi. read more

The Loreng: Army Look

Dalam dunia fesyen, jenis dan corak busana bermotif militer (army look) selalu saja terasa up to date. Motif yang paling terkenal adalah loreng. Asal-usul motif loreng ini sepertinya tidak terlepas dari upaya kamuflase dalam suatu peperangan. Loreng digunakan oleh tentara, baik untuk pakaian dinas lapangan maupun seragam kebanggaan Korps. Dilihat dari fungsi dan kegunaanya, loreng dapat melindungi pemakainya dari kecurigaan musuh. Bahkan untuk jenis tertentu, pakaian loreng dapat melindungi pemakainya dari duri atau perdu liar ketika mengintai musuh.

Bisa jadi karena modelnya unik inilah, dunia fesyen mengadopsinya disesuaikan dengan permintaan pasar. Penikmat fesyen model army look ini, dari semua kalangan dan lintas gender. Model loreng semacam itu, bisa dipakai untuk santai, jalan-jalan, atau ronda malam.

Secara fisik, orang sering terkecoh dengan penampilan saya. Model rambut saya yang selalu cepak ditunjang tinggi badan 170 cm, orang mengira saya ini seorang prajurit, bahkan ada yang menduga kalau pangkat saya Kapten!

Kemarin, saya menerima kiriman paket tali asih dari Pakde Cholik berupa sebuah buku (saya termasuk 10 top commentator BlogCamp 2009) yang terbungkus oleh kaos loreng. read more