Biar Peta yang Bicara

Beberapa waktu yang lalu, adik kelas saya di masa kuliah mengirimkan sebuah kaos bertuliskan “Biar Peta yang Bicara”. Ya, kaos itu seakan mengingatkan kembali disiplin ilmu yang saya ambil ketika kuliah dulu yaitu Kartografi yang secara mudahnya disebut juga ilmu membuat peta atau atlas. Peta yang dibuat pun berbagai macam tergantung temanya, mau yang menampilkan data fisik seperti peta topografi, peta hidrologi dan sebagainya atau tema sosial-ekonomi seperti peta sebaran penduduk misalnya.

Hampir dua puluh tahun saya murtad dari disiplin ilmu Kartografi. Dulu ketika membuat selembar peta masih saya lakukan secara tradisional yaitu menggunakan pena dan kertas. Kini, cara pembuatan peta sudah sedemikan canggih, serba komputer dan tentu saja karena kemurtadan tadi, saya babar blas tidak bisa mengikuti perkembangan kecanggihan pembuatan peta. Meskipun begitu, peta tidak bisa lepas dari kehidupan saya sehari-hari baik untuk urusan kantor maupun urusan pribadi. lanjutkan baca

Satrio Kelara-lara

Lelaki yang duduk di depan saya ini berwajah sangat kuyu, kelihatan lebih tua sepuluh tahun padahal umurnya sebaya dengan saya. Semalam, dia datang ke rumah pinjam uang untuk membelikan buku untuk anaknya.

Satu setengah tahun lalu, dia masih gagah perkasa. Energik. Sebagai general manager di sebuah perusahaan PMA, penghasilannya bisa untuk hidup di atas rata-rata dibanding tetangga kiri kanannya. Kini, dia tengah menjalani hidup sebagai Satrio Kelara-lara.

Ini bermula ketika terjadi euphoria per-caleg-an. Saya tidak tahu persis proses masuknya dia ke dunia partai politik. Hanya saya mendengar kalau teman yang satu ini mendaftar sebagai caleg, bahkan untuk mendapatkan nomor urut 1 dia harus merelakan mobilnya. Hukum alam pun berlaku : ada gula ada semut. Banyak orang yang menawarkan diri sebagai tim suksesnya.Tiada hari tanpa penggalangan massa, dan itu membutuhkan banyak biaya. lanjutkan baca

Berpikir dan Bertindak Kreatif di Jaman Susah

Di tengah hujan yang lebat yang disertai angin, lewatlah sebuah mobil dikendarai oleh seorang lelaki muda. Ketika dia melewati sebuah halte dilihatnya ada 3 orang yang bermaksud menumpang mobilnya. Dia pun keluar dari mobil, oh.. ternyata 3 orang tadi dia mengenalnya dengan baik.

Orang pertama, seorang bapak yang pernah membantunya hingga sukses seperti sekarang ini. Orang kedua, seorang nenek yang sedang sakit, dia ini pernah jadi induk semangnya ketika dia kost dulu, sedangkan orang ketiga, perempuan cantik yang saat ini sedang diincar untuk dijadikan istrinya. Dia ingin menolong ke 3 orang tersebut, tapi apa daya mobil yang dia punya hanya muat untuk 2 orang saja. Intinya, dia harus memilih 1 dari ke 3 orang tersebut.

Di tengah situasi seperti itu, ternyata kawan kita yang satu ini berpikir kreatif. Dari ke 3 orang tersebut, siapa yang dipilih? Bapak yang dermawan, nenek yang sedang sakit atau si cantik? Kawan kita menyelesaikan persoalannya begini : Dia minta bapak yang dermawan itu membawa mobilnya, bersama-sama dengan nenek yang sedang sakit itu, sementara dia akan menemani si cantik di halte sambil menunggu hujan reda, tentunya sambil pedekate! lanjutkan baca