Keinginan terpendam

Saya memiliki sebuah keinginan terpendam, yang dengan keberanian saya yang memang cuma seujung kuku ini, saya seringkali mencoba melupakannya, menghindarinya, bahkan menghilangkannya.
~by Orin~

“Semalam, ketika aku sedang bermimpi indah, aku ingin membuka mata tetapi dengan keinginan besar bahwa mimpi indah itu masih bisa aku nikmati. Singkatnya, aku ingin merealisasikan mimpi indahku itu. Tetapi buyar,” kata Isaku kepada seorang kawan yang hobinya mendengar curhat teman-temannya.

“Memangnya kamu mimpi apa?” tanya kawannya itu, sambil menopang dagu dengan tangan kanannya. lanjutkan baca

Jadi juragan rumah petak

Ada banyak orang di sekitaran saya yang bisa menjadi teladan bagi orang-orang yang mudah putus asa, sedang terpuruk atawa kurang gigih dalam berusaha. Saya akan ceritakan satu (dulu) di antara mereka.

Orang-orang memanggilnya Ucok, meskipun ia asli dari bukit Tidar Jawa Tengah. Barangkali karena bentuk rahangnya mirip saudara kita yang bersuku Batak, ia dipanggil Ucok. Saya mengenalnya di awal tahun 1994. Saat itu saya indekos di pinggir Citarum, ia setiap pagi menaiki sepedanya membawa tumpukan koran dan majalah, mengantarkannya dari rumah ke rumah, dan saya salah satu pelanggan koran dan majalahnya. Sabtu, saat saya libur ada sedikit waktu untuk mengobrol dengannya.  Saya menjadi tahu nama asli dan asalnya.

Wilayah jelajah Ucok lumayan luas. Saya sering bertemu Ucok ketika ia mampir ke kantor saya menawarkan koran dan majalahnya ke teman-teman kantor. Jarak rumah saya ke kantor berkisar 12 km.

Tahun 2001, ia datang ke rumah saya membawa seorang temannya. Ia memberitahukan kalau yang akan mengantar koran dan majalah ke rumah saya bukan dia lagi, tetapi temannya yang dibawa itu. Belakangan saya tahu, kalau yang dibilang temannya itu sebenarnya anak buahnya.

Suatu siang, Ucok mendatangi saya yang sedang leyeh-leyeh di kantin kantor. Ia membawa segepok uang dalam amplop, karena mendengar ada teman kantor yang bermaksud menjual mobil. Uang puluhan juta itu hasil tabungannya! Sayangnya, mobil yang ditaksirnya sudah terjual. Ia pulang dengan perasaan kecewa.

***
lanjutkan baca

Memburu sunset di Uluwatu

Pada hari itu, di Bandara Ngurah Rai Bali sekitar jam 5 WITA. Mobil sewaan telah menunggu kedatangan mereka – Kyaine dan kawannya, seorang fotografer. Transaksi tidak lama, karena sudah jadi pelanggan tetap. Teman perjalanan Kyaine itu sangat menguasai medan Pulau Bali, maka ia yang mengendalikan kemudi mobil sementara Kyaine duduk di sebelahnya.

Ah, sore hari jalan Ngurah Rai cukup padat – banyak kendaraan yang memburu waktu ke Kuta atawa Legian untuk menyaksikan indahnya matahari terbenam di ufuk barat, ditambah mendung yang menggelayut di langit Denpasar. Tujuan Kyaine dan temannya itu bukan ke arah Kuta, melainkan ke Ungasan, bagian selatan Pulau Bali. Urusannya sama, memburu matahari tenggelam. Tetapi gagal, karena hujan tiba-tiba turun. Ya sudah, akhirnya sisa waktu mereka pergunakan untuk mengurus perizinan untuk peliputan hari-hari berikutnya.

Izin sudah di tangan, mobil diarahkan ke Nusa Dua untuk check in – di sebuah hotel yang lokasinya bersebelahan persis dengan hotel tempat menginap mas Sony Laksono ketika menyaksikan pertandingan tenis di Bali beberapa waktu lalu. lanjutkan baca