Kalian benar-benar menyebalkan!!!

Barangkali, langit di atas Nusantara sebentar lagi akan roboh meluluhlantakkan bumi pertiwi karena tidak kuat lagi menahan jutaan kalimat janji politisi yang dua minggu ini melakukan kampanye di berbagai sudut negeri. Tidak cukupkah Tuhan memberikan peringatan berupa jebolnya tanggul Situ Gintung, yang menelan puluhan nyawa itu?

Bagaimana Tuhan tidak murka coba? Di tengah kampanye, kalian menyajikan maksiat di atas panggung dengan goyang pinggul penyanyi dangdut murahan, sementara mata anak-anak calon pewaris bangsa dengan polosnya menyaksikan adegan goyang disertai dengan obral uang sawer kader-kader terbaik partai kalian. Bukankah kemarin Tuhan telah menjewer telinga kalian dengan meniupkan angin lesus disertai hujan yang memporakporandakan panggung kampanye kalian?

Eh, ada fenomena baru. Sebelum kampanye kalian menyampaikan rasa duka cita yang mendalam dan mendoakan arwah korban bencana Situ Gintung, tetapi pada detik berikutnya kembali tampil si penyanyi dangdut kampungan yang kalian bayar mahal itu. Sungguh bebal.

Janji politisi menggantung di awan, jatuh ke bumi menjadi bencana. Hentikan omong kosong, dengan berbuat nyata di tengah rakyat yang sedang menderita.

Dor…. Dor…. Dor…. Kalian benar-benar menyebalkan!!!!

Kelahiran Muhammad SAW

“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam” (QS 21 : 107)

Abdullah bin Abdul Muthalib menikahi wanita terhormat dari kalangan Quraisy : Aminah binti Wahhab bin Abdu Manaf bin Zahrah az-Zhuhriyah. Aminah lalu mengandung Muhammad SAW. Tak lama kemudian Abdullah wafat. Setelah melahirkan, Aminah mengirimkan berita kepada Abdul Muthalib bahwa dia telah melahirkan anak laki-laki. Abdul Muthalib segera menemui dan melihat cucunya itu serta membawanya ke Ka’bah. Lalu dia berdoa dan memuji Allah SWT serta memberinya nama Muhammad. Nama tersebut cukup asing di kalangan masyarakat Arab pada waktu itu. Abdul Muthalib lalu bersenandung :

Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahiku anak yang baik ini, lagi menjadi idamanku. Dia akan berada dalam buaian dengan usia mudanya. Aku akan melindunginya di Baitullah dan tiang-tiangnya, hingga aku akan melihatnya tumbuh dewasa. Dan aku akan melindunginya dari kejahatan orang-orang yang benci, dan dari kendali orang yang dengki.

Muhammad SAW lahir di rumah Abu Thalib, di lingkungan bani Hasyim dekat Shafa di Mekkah al-Mukarramah. Muhammad SAW lahir pada Senin pagi, 12 Rabiul Awal di Tahun Gajah, tahun di mana Abrahah al-Habsyi menginvasi Mekkah al-Mukarramah untuk menghancurkan Ka’bah dari arah Yaman.

Rasulullah SAW lahir di tengah-tengah kabilah paling terhormat di antara kabilah-kabilah Arab lainnya. Berkata Rasulullah SAW : “Allah telah memilih Kinanah sebagai keturunan Ismail, lalu Kinanah Dia memilih Quraisy, kemudian dari Quraisy, Dia memilih bani Hasyim, dan dari bani Hasyim, Dia memilihku.” (HR Muslim).

Ayahnya, Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka’b bin Lu’ay bin Ghalib bin Fihr (Quraisy) bin Malik bin Nadhr bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nazar bin Ma’d bin ‘Adnan. Nasabnya terus berlanjut sampai kepada Ismail bin Ibrahim.

Sementara itu, ibunda Muhammad SAW adalah Aminah binti Wahhab bin Abdu Manaf bin Zahrah bin Kilab bin Murrah. Nasabnya bertemu ayahnya pada Kilab bin Murrah (kakek kelima dari ayahnya dan keempat dari ibunya).

Syifa’, ibunda Abdurrahman bin Auf adalah bidan yang membantu kelahiran Muhammad SAW. Ibu susuan Muhammad SAW pertama kali adalah Suwaibah, budak perempuan pamannya, Abu Lahab. Ummu Aiman merupakan orang yang mengasuhnya, budah perempuan ayahnya, Abdullah bin Abdul Muthalib.

Sudah menjadi tradisi bangsawan Arab meminta tolong kepada ibu susuan untuk menyusui anak mereka di pedalaman. Hal tersebut dilakukan agar si anak berlaku mulia pada setiap keadaan. Halimatus Sa’diyah, istri Abu Kabsyah kemudian mengambil alih penyusuan Muhammad SAW di tengah-tengah bani Sa’d dari suku Hawazin. Keberkahan pun diperolehnya dan juga desa mereka. Saat usia Muhammad SAW 4 tahun, Halimah mengembalikannya ke pangkuan ibundanya. Ketika berusia 6 tahun, ibunya meninggal, Muhammad SAW kemudian diasuh oleh kakeknya, Abdul Muthalib. Saat Muhammad SAW berusia 8 tahun, kakeknya itu wafat. Setelah itu pengasuhannya pun berpindah ke tangan Abu Thalib, pamannya. Demikianlah, sedari kecil Muhammad SAW dalam keadaan yatim piatu.

Sumber : Atlas Perjalanan Hidup Nabi Muhammad – Dr. Sami bin Abdullah al-Maghluts

Perjalanan hidup seorang Ksatria

Satrio Piningit lahir dari kampus. Hidup pas-pasan, mengandalkan uang kiriman orang tua di kampung. Untuk menggembleng mental dan hatinya, jadi aktivis kampus. Unjuk rasa jadi ekstrakuler tambahan. Menyuarakan hati nurani rakyat yang tertindas oleh rezim yang sedang berkuasa. Lulus dengan IP standar, tidak cumlaude tidak mengapa. Cari kerja ke sana ke mari tidak ada yang mau menerima lamarannya. Jadilah dia Satrio Kalunta-lunta, nebeng hidup dari kost teman satu ke teman yang lain.

Lahir partai baru, melamarlah dia ke sana. Diterima, sebagai punggawa inti karena track recordnya sebagai aktivis kampus dulu. Tidak begitu lama, foto dirinya telah terpajang di sudut negeri, gagah perkasa, berjas rapi, tak lupa ada senyum dikulum. Dia menjelma menjadi caleg. Dari mana dia mendapatkan dananya? Tidak pernah ada yang mengaku siapa yang menjadi bandarnya.

Wahai angin nan lalu, akhirnya duduklah dia di kursi yang terhormat menjadi anggota legislatif. Dia telah berubah menjadi Satrio Mukti Wibawa, gaya hidupnya berubah total : rumah di mana-mana, tanah berhektar-hektar, istri cantik jelita, ponsel keluaran terbaru dan termahal. Sayangnya, dia sedang lupa kepada akarnya. Hidupnya bagai di awang-awang. Seribu tidak pernah cukup, selalu ada keinginan yang lebih.

Celaka tiga belas, dia tertangkap tangan sedang bertransaksi haram, sebuah tindakan konspirasi tentang penyelewengan wewenang. Media mengungkap semua boroknya, predikat ma-lima ada padanya. Maling, madat, madon, main, minum (stealing, opium smoking, womanizing, gambling, drinking), sungguh memalukan. Di jidatnya telah distempel sebagai Satrio Wirang.

Proses hukum pun digelar, kasihan benar kawan yang satu ini, putusan hakim mengalahkan dia, jadilah dia Satrio Kinunjara. Harta benda habis untuk pembelaan di depan hakim, istri jelitanya minta cerai, partai tempatnya bernaung malu untuk menerimanya kembali. Aih… dia benar-benar sudah menjadi Satrio Nelangsa.

Semua orang telah melupakan dia.

Note : Satrio Piningit = ksatria yang sedang disembunyikan, digembleng oleh pengalaman dan alam; Satrio Kalunta-lunta = ksatria yang hidupnya prihatin untuk sebuah tujuan hidup, terlunta-lunta; Satrio Mukti Wibowo = ksatria yang telah berhasil hidupnya, cita-citanya telah tercapai; Satrio Wirang = ksatria yang sedang mendapatkan hal yang mempermalukan dirinya; Satrio Kinunjara = ksatria yang terpenjara, masuk bui; Satrio Nelangsa = ksatria yang hidupnya menderita lahir dan batin