Ibu, Perempuan yang Luar Biasa

Kemarin, saya mendatangi undangan sunatan anak teman saya. Tradisi di tanah Sunda, anak di bawah 6 tahun sudah pada disunat. Di kota kelahiran saya, anak disunat kalau sudah berumur 15 tahun. Setelah memberikan amplop kepada anak yang disunat yang saat itu dipangku ibunya, saya menikmati hidangan yang disajikan tuan rumah. Sambil mengunyah makanan, fikiran saya mengembara ke dalam waktu ketika saya disunat dulu.

Sebelum saya berangkat ke mantri sunat saya diharuskan sungkem kepada bapak dan ibu saya. Ada rasa haru di sana, mohon doa restu agar prosesi pemotongan “ujung daging” berjalan lancar dan aman. Dan ketika pulang dari mantri sunat, ibu sudah menunggu di depan pintu dan memberikan satu siwur (gayung dari batok kelapa) air tempayan untuk saya minum. read more

Keluar Dari Tempurung

Pagi hari ketika saya membersihkan mobil, seekor semut masuk ke mobil saya. Sebut saja namanya si Semyood. Indera penciumannya lumayan peka dalam mengendus adanya remah-remah makanan di jok mobil. Tidak lama kemudian saya berangkat ke Bandung. Sementara saya sibuk dengan mengemudikan mobil saya, Semyood di jok belakang duduk manis mengelus-elus perutnya yang kekenyangan.

Tujuan pertama saya ke Gasibu, sarapan bubur ayam kemudian ke BSM, lalu ke factory outlet di RE Martadinata, terakhir nonton film di BIP. Petang hari saya sudah berada kembali di rumah.

Semyood keluar dari mobil, sampai di dekat liangnya dia telah ditunggu oleh teman-temannya. read more

Melukis Wajah Raja

Seorang raja memanggil tiga orang pelukis ke istananya untuk melukis dirinya di atas kanvas yang cukup besar. Lukisan itu akan dipasang di ballroom untuk menyambut tamu raja yang akan datang lima hari lagi. Raja ini mempunyai tanda lahir berupa noktah hitam di pipi kirinya.

Pelukis 1, dengan cekatan menggoreskan kuas di atas kanvas, sesekali memandang wajah raja untuk memastikan tidak ada yang kurang dalam lukisannya. read more