Melukis Wajah Raja

Seorang raja memanggil tiga orang pelukis ke istananya untuk melukis dirinya di atas kanvas yang cukup besar. Lukisan itu akan dipasang di ballroom untuk menyambut tamu raja yang akan datang lima hari lagi. Raja ini mempunyai tanda lahir berupa noktah hitam di pipi kirinya.

Pelukis 1, dengan cekatan menggoreskan kuas di atas kanvas, sesekali memandang wajah raja untuk memastikan tidak ada yang kurang dalam lukisannya. read more

Jangan sekali-sekali meremehkan hal yang sepele karena bisa jadi masalah sepele tadi melibas diri kita

Anda mungkin sudah mendengar atau membaca kisah penemu permainan catur yang dipenggal kepalanya oleh seorang raja. Konon penemu catur ini seorang ahli matematika.

Ketika saya klas 2 SMA, Pak Suparmin (alm) – guru matematika, memberikan kami sebuah PR menghitung jumlah butir beras yang beratnya 1 kg. Ternyata jumlah hitungan kami berbeda-beda, berkisar 35.000 – 45.000 butir/kg.

Kemudian pak Parmin bercerita mengenai kisah penemu catur ini. read more

Momen Kemenangan

“Sesaat setelah hitungan ke-10 suasana di seputaran ring penuh sesak dengan orang. Saya sampai kebingungan. Tidak sia-sia persiapan setahun yang saya lakukan bersama Kairus Sahel di Sasana Garuda Jaya. Air mata saya baru bisa keluar saat berkumpul bersama keluarga besar yang saya datangkan dari Ambon. Saya benar-benar merasa bangga bisa mengangkat nama bangsa dan negara di arena tinju dunia,” demikian tutur Ellias Pical, petinju Indonesia pertama yang meraih gelar juara dunia versi IBF di kelas Bantam Junior 52,5 kg, tahun 1985 setelah hook kirinya menjatuhkan Ju Do Chun (Korea Selatan) di ronde ke-8 dari 15 ronde yang direncanakan.

Setiap orang pasti mempunyai suatu momen kemenangan, yang ukurannya berbeda antara satu orang dengan lainnya, karena hal ini terkait dengan tingkat kepuasan dan kebahagiaan, yang semua itu tidak terlepas dari masalah perasaan di hati.

  • Ketika masa kanak-kanak saya dulu, seorang anak lelaki dikatakan hebat kalau sudah berani minta disunat kepada orang tuanya. Momen ini saya alami ketika menginjak usia 15 tahun. Bapak saya menggelar hajatan untuk mensyukuri keberanian saya tersebut.
  • Pada periode menuntut ilmu di bangku sekolah, saya juga mengalami momen kemenangan itu. Saya yang mempunyai tingkat kepandaian yang biasa-biasa saja, untuk mencapai level pendidikan yang lebih tinggi perlu perjuangan tersendiri. Waktu itu belum ada yang namanya NEM, sehingga untuk bisa masuk ke suatu sekolah tiketnya adalah melalui ujian masuk, yang pesaingnya banyak sekali. Apalagi untuk bisa masuk sekolah terfavorit di kota saya. Momen kemenangan itu ketika diterima di SMP dan SMA yang saya tandai dengan pengundulan kepala. Lolos seleksi penerimaan mahasiswa baru (SIPENMARU) di Universitas Gadjah Mada, juga saya catat sebagai momen kemenangan saya.
  • Mengucapkan kalimat ijab-kabul pernikahan menjadi momen yang cukup menegangkan, nantinya akan berubah menjadi momen yang melegakan ketika menyelesaikan kalimat itu.
  • Kemudian, semakin bertambahkan usia dan pengalaman, akan banyak saya temui berbagai macam momen kemenangan, baik di lingkungan keluarga, pergaulan dan pekerjaan. Baik kemenangan yang besar atau kecil, yang nanti akan saya dongengkan kepada anak-cucu saya, sebagai┬átanda syukur saya kepada-Nya.

Momen kemenangan Anda, bagaimana?