Intafa’a

Jumat berkah.

Seorang kawan saya yang bekerja di perusahaan otomotif berkirim SMS, akan bertamu sebelum jumatan: “Mau mbayar utang, Mas!”

Beberapa bulan yang lalu, ia pinjam uang kepada saya lima juta untuk membayar UKT anaknya yang masuk seleksi PTN. Kebetulan waktu itu saya memang sedang pegang uang cash, setelah mendapat arisan mingguan yang saya ikuti dengan potong uang makan. Belum juga uang tersebut saya manfaatkan, datang kawan saya itu menyampaikan hajatnya kalau lagi butuh uang untuk urusan sekolah anaknya. lanjutkan baca

Menjadi ibu

Sarmintara tak sabar menunggu bulan Desember. Kemarin dulu ia mendatangi biro perjalanan umroh, mendaftarkan atas nama dirinya dan ibunya. Tabungan yang ia mulai sejak lima tahun lalu, telah cukup untuk pergi umroh berdua.

“Memang sudah menjadi keinginan saya mengajak ibu ke Tanah Suci, pak haji,” ujar Samintara kepada Mas Suryat, di serambi masjid sambil menunggu dimulainya ibadah shalat Jumat.

“Alhamdulillah, mas. Insya Allah semua urusan lancar ya. Jadi mau berangkat dari mana, Jakarta atau Surabaya?” tanya Mas Suryat.

“Ambil Surabaya saja, pak haji. Lagian saya bisa mendampingi ibu mulai dari keberangkatan dari Jember,” jawab Sarmintara.

Mas Suryat menyarankan kepada Sarmintara untuk segera membikin paspor, agar jauh-jauh hari sudah memegang dokumen imigrasi. Selebihnya, biar Gusti Allah yang mengatur semuanya. lanjutkan baca

Gino gelisah

Buku tabungan berwarna biru tua itu tergenggam erat di tangan Gino. Office boy kesayangan Mas Suryat itu matanya menerawang ke arah plafon, entah apa yang menjadi fokusnya. Adakah sarang laba-laba atau sepasang cicak yang sedang kasmaran, hingga mata Gino tak berkedip cukup lama.

“No, berita di koran kemarin ada orang mati mendadak gara-gara melamun akut seperti kamu ini.”

“Eh, pak Suryat. Bikin kopinya sekarang?”

Awakmu nglamunke apa?”

Ditanya seperti itu, Gino malah membik-membik bibirnya. Berasa mau mewek. Mas Suryat bingung. Ia pun segera menggeser kursi dan duduk di dekat Gino. lanjutkan baca