Senyum si mBak Kok Hilang

Debat Capres semalam terasa garing, tidak ada yang mengejutkan – dan dengan terpaksa saya mematikan TV di tengah acara. Si mBak, yang setiap wawancara di TV selalu saya tunggu : kejutan-kejutan gagasan dan pendapatnya, kepintarannya dalam menjawab suatu pertanyaan, kelucuannya, keceriaannya, kekenesannya, sifat keibuannya, dan yang paling penting bagi saya senyuman manisnya itu. Senyum yang menyejukkan. Semalam, saya tidak mendapatkan itu semua. read more

Bukan Suara Tuhan

Kali ini Ustadz Asnoor  mengajak Kyaine dan mas Budiono bersilaturahmi ke gurunya, di Pondok Pesantren Darussalam di wilayah Pantura. Selain menghadiri pengajian selapanan tiap malam Jumat Wage sekalian tasyakuran menyambut kedatangan putra sang guru yang baru saja pulang dari menuntut ilmu di Kairo Mesir.

Mungkin karena kecapekan, mata Kyaine sering terpejam ketika Kyai Idris memberikan ceramahnya. Acara ditutup dengan makan kenduri, sungguh nikmat. Kyaine hanya sebagai pendengar yang baik, ketika putra Kyai Idris menceritakan pengalamannya di negeri piramida itu dan ia membayangkan alur cerita di novel Ayat-ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih. read more

Sapaan Hangat Milik Ibu

Hampir satu minggu ini saya tidak melakukan up date blog ini, saya sedang pulang kampung menengok ibu yang sedang sakit. Sapaan hangat milik ibu yang selalu dilontarkan setiap kali bertemu dengan saya: piye, rak padha waras toh. wis mangan durung (bagaimana, semua pada sehat kan. sudah makan belum)? Dan saya selalu merindukan sapaan sederhana ciptaan ibu saya itu, karena saya yakin apa yang terucap dari mulut ibu saya itu adalah sebuah doa.

Adakah satu atau dua kalimat yang terucap dari bibir ibu Anda yang tetap teringat sampai sekarang? Sambil Anda mengingat-ingat kata ibu Anda, ini ada beberapa kata ibu mereka:

Ibunya Diponegoro: “Wir (Ontowiryo, nama kecil Diponegoro), sekali-kali mbok kamu lepas surbanmu itu dan pakailah topi koboi ini. Sekarang naiklah ke atas kudamu. Hmm..kamu makin gagah, seperti koboi.” read more