KH Anwar Zahid Bojonegoro

Jika sedang duduk di depan tipi dan remot ada di tangan, saya suka pencet-pencet remot mencari acara tipi yang enak ditonton. Kalau nggak dapat acara yang bagus, matiin saja dan mencari aktivitas lain.

Minggu lalu, saya pun pencet-pencet remot dan nemu acara pengajian dalam bahasa Jawa pada sebuah stasiun tipi lokal. Aneh juga, tinggal di tatar Sunda kok ada tipi siaran bahasa Jawa. Maka, saya cermati pak Kiai yang sedang sesorah. Lugas, lucu, materinya sangat mengena di hati. read more

Rindu Partai Keadilan tanpa Sejahtera

Walau bukan anggota atau pengurus Partai Keadilan Sejahtera (PKS), saya memiliki ikatan batin dengan partai ini. Sejumlah pendiri partai ini (awalnya Partai Keadilan/PK) adalah guru-guru saya di Ma’had Al Ishlah (Perguruan Islam), Pondok Aren, Tangerang, pada era 1990-an. Sebuah ma’had kecil dengan belasan murid saja. Saya bangga, guru-guru saya yang dulu mengajar tanpa pamrih dan sederhana kini masuk jajaran elite politik di negeri ini.

Sejak awal PK dideklarasikan, saya menyambut dengan antusias karena saya mengenal orang-orang di belakang partai ini. Saya ikut mempromosikan partai ini. Sejumlah pertanyaan dilontarkan teman dan kerabat saya. Partai apa ini? Siapa tokohnya? Dari mana dananya?

Agak sulit menjawab pertanyaan mereka. Maklum, secara umum, saat itu partai Islam selalu identik dengan ormas Islam. Sementara PK dibangun para aktivis yang berdakwah nyaris tanpa bendera ormas apa pun. Tokoh-tokohnya hanya dikenal di kalangan lingkungan aktivis Islam dan simpatisannya. read more

Putri Solo dan Mas Joko

Sebagai lelaki tulen yang berasal dari trah Solo, Mas Joko punya klangenan khas yakni: leyeh-leyeh di balai-balai sambil nglaras tembang campursari. Suara cemengkling mBak Waldjinah yang menyanyikan lagu Putri Solo membuat mata Mas Joko liyer-liyer sementara fikirannya sibuk mereka-reka sosok Putri Solo yang dideskripsikan dalam lagu tersebut. Simak saja syairnya:

putri Solo, ayune kepara nyata/pancen pinter anglelewa/ dasar putri Solo/ nganggo selendang pelangi/ sumampir ana pundhake/ cunduke kembang melati/ dadi lan pantese
melakune kaya macan luwe/ sandal jinjit penganggone/ kiyet-kiyet swarane/ kelap kelip ya suwenge/ dasar, putri Solo
putri Solo/ yen, ngguyu dekik pipine/ ireng manis kulitane/ dasar putri Solo read more