Bima mengejar wahyu keraton

Di dunia WayangSlenco tidak dikenal adanya pilpres, pileg atawa pilkada, karena semua sistem pemerintahan bermodel monarki. Seorang raja akan mewariskan tahtanya kepada keturunannya. Ada pula maharaja yang mengadiahkan sebuah kerajaan kepada seorang ksatria, seperti Karna mendapatkan kerajaan Awangga dari ayah Duryodana. Tidak semua raja yang memiliki tahta mempunyai wahyu keraton, yaitu semacam legitimasi dari para dewa bahwa ia telah ditunjuk para dewa untuk menjadi wakilnya di bumi persada memimpin sebuah negeri.

Adalah Bima a.k.a Werkudara – Pandawa kedua, yang sedang bertapa meminta kepada para dewa supaya dianugerahi wahyu keraton. Bima yang perkasa dan sakti mandraguna itu, meskipun oleh tetua Pandawa telah diberi sebuah kerajaan tetapi Bima tidak merasa pede – percaya diri, sebab ia belum mendapatkan wahyu keraton.

Syahdan, memasuki hari ke seratus doa-doa Bima didengar oleh para dewa. Di tengah malam yang hening, dari angkasa meluncur sebuah cahaya yang berbentuk bulat menyerupai bentuk bulan, tetapi cahayanya lebih terang benderang. Cahaya itu jatuh di depan Bima yang sedang bersila. Bima segera menangkap cahaya itu, tetapi luput. Benda bercahaya itu seperti menghindarinya. Bima berdiri bersiap untuk menubruk dan menangkap benda itu, namun lagi-lagi benda itu meloncat dan berlari entah ke mana.

Bima mengejar benda bercahaya itu. Begitu dekat, ia segera ambil ancang-ancang untuk menangkapnya, tetapi selalu gagal. Bima gusar. Benda itu seperti mempermainkannya. Ia segera menggunakan kesaktiannya untuk menangkap benda bercahaya yang tak lain wahyu keraton itu. Gagal maning, son.

Bima mengejar. Ia tak memerdulikan keadaan sekitar yang paling pokok wahyu itu harus ia genggam. Tanpa ia sadari, wahyu keraton itu berlari menuju keraton Madukara tempat bersemayamnya Arjuna dan Sembadra, istrinya. Cahaya yang dikejar Bima itu meloncat dan meluncur ke sebuah kamar.

Bima segera mendobrak kamar tersebut. O, ia sedang mendapati cahaya itu berada di atas perut Sembadra yang sedang hamil tua. Dalam sekejap, cahaya itu masuk ke perut Sembadra. Wahyu keraton itu jatuh ke calon bayi Sembadra. Bima meradang. Ia yang bertapa sertaus hari sementara kenapa si jabang bayi yang masih dalam perut ibunya yang mendapatkan wahyu keraton.

Ia segera mencari Arjuna, yang tak lain adiknya sendiri.

“Jun, nggak bisa begitu dong. Ayo, ambil wahyu keraton itu dari istrimu dan berikan kepadaku!”

“Sabar mas, sabar. Semua bukan kehendakku, kehendak Sembadra atawa kehendak si jabang bayi. Semua sudah diatur oleh para dewa. Memang anakku yang mendapatkan wahyu itu. Bukankah ia juga keponakanmu?”

Terdengar suara bayi dari kamar Sembadra. Si jabang bayi telah lahir yang dari tubuhnya mengeluarkan cahaya. Wahyu keraton itu, hanya Bima saja yang bisa melihatnya. Bima menghampiri si jabang bayi dan menggendongnya.

“Jun, izinkan aku mengambilnya sebagai putraku.”

“Baiklah mas, aku dan Sembadra setuju.”

Bima senang bukan main. Ditimangnya bayi itu, lalu dengan suaranya yang menggelegar ia berkata, “Anak ini aku beri nama Abimanyu!”

Sebuah nama yang mengandung nama Bima. A-bima-nyu, yang berarti seorang yang garang dan tidak memiliki rasa takut.

~oOo~

Karena dalam pengasuhan Bima, Abimanyu sangat akrab dan sayang kepada Gatotkaca, anak Bima. Kedua ksatria ini nanti saling membantu dalam perang Baratayudha.

Abimanyu juga mempunyai nama lain yaitu Angkawijaya, mempunyai dua istri, yaitu yang pertama Siti Sundari. Dari perkawinan ini mereka tidak mempunyai anak. Lalu dengan istri kedua yang bernama Utari, mendapatkan putra yang bernama Parikesit.

Parikesit lahir sehabis perang Baratayudha. Ia sangat disayang oleh para Pandawa. Ia bertahta di Hastina dengan menggunakan nama Prabu Kresnadipayana. Lakon Parikesit menjadi wayang penutup  di zaman purwa, lalu datang zaman wayang madya, di mana Parikesit menjadi cerita permulaannya.

(Visited 1 times, 1 visits today)