Belajar kesabaran

Sabar itu mestinya tiada batas, sehingga terdengar wagu jika seseorang mengatakan kalau kesabarannya sudah habis. Seperti kata merdeka, mestinya tidak perlu didefinisikan arti merdeka itu apa, sebab jika didefinisikan maka ia tidak merdeka lagi.

Secara merdeka kita boleh belajar kesabaran dari alam sekitar. Aneka buah sampai tahap masak ada tata-waktunya, hanya manusia yang tidak sabar ingin menikmatinya akhirnya mengeramnya dengan karbit agar cepat masak. Oke, saya memang sering kesulitan belajar kesabaran kepada angin, air, tumbuhan, atau binatang. 

Akhirnya, saya belajar kesabaran pada orang dengan berbagai profesinya:

(1) Tukang Sate

Ia mangkal di depan perumahan saya. Jualannya lumayan laris, ada sate ayam dan sate kambing. Pertama ia hitung jumlah tusukan sate sesuai pesanan, lalu ia olesi bumbu kacang. Ia membolak-balik tusukan sate tersebut agar bumbu kacangnya meresap dan merata. Kemudian ia tuangkan kecap manis, dibolak-balik lagi.

Ia mulai mengipasi arang supaya baranya tetap menyala, kemudian satu persatu tusukan sate ia gelar rapi di atas area pembakaran dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya memegang kipas yang bergerak tiada henti. Ia amati satu per satu tusukan sate, lalu membaliknya agar kematangan dagingnya merata dan tidak gosong.

Dengan lincah tangan kirinya mengumpulkan tusukan sate lalu ia pindahkan ke sebuah piring. Tusukan sate kembali ia olesi bumbu kacang dan kecap manis, lalu dibolak-balik lagi.

Tak lama kemudian ia kembali membakar tusukan sate hingga matang benar baru dilakukan serah terima kepada pembelinya.

(2) Tukang Odong-odong

Kakinya mengayuh sepeda statis agar rantai berputar. Secara mekanik, putaran rantai tersebut akan menggerakkan kursi-kursi yang sudah dimodifikasi dengan aneka karakter yang disukai anak-anak. Beberapa anak usia balita duduk manis, bergoyang-goyang sesuai gerakan odong-odong.

Cara kerjanya tidak termasuk sunyi, sebab ia mesti menyetel lagu-lagu kanak-kanak populer dengan pelantang suara. Selain untuk menghibur anak-anak yang naik odong-odong, ia kudu mengayuh sepeda statisnya hingga satu lagu selesai. Kalau ada satu anak yang naik harus ia layani selama satu lagu, meskipun sebetulnya kakinya sudah pegal-pegal.

(3) Penjual perlengkapan kematian

Setiap kali saya melewati Pasar Baru, saya selalu melihat sebuah gerobak yang ditutup terpal warna biru dan ditempeli spanduk bertuliskan: menjual perlengkapan kematian seperti kain kafan, tikar, kendi, dan sebagainya.

Tentunya setiap pedagang selalu berharap agar barang dagangannya laris terjual. Demikian pula dengan penjual perlengkapan kematian tersebut. Tentu saja pedagang yang ini mendapatkan rejekinya dari sebuah kematian, dan belum tentu dalam sehari ada keluarga marhum/marhumah membeli perlengkapan kematian di lapaknya.

 Tuhan telah mengatur rejekinya, tentu saja.