Becik ketitik ala ketara

Musim haji telah usai. Jamaah haji Indonesia kembali ke tanah air dengan membawa berjuta kenangan, kesan, dan cerita pengalaman pribadi masing-masing ketika berada di Tanah Haram. Maklum saja, karena jamaah haji Indonesia tinggal di Tanah Haram selama puluhan hari. Untuk jamaah reguler paling tidak sepanjang 40 hari.

Bersilaturahim dengan jamaah haji yang baru pulang dari Tanah Haram, terasa menyenangkan. Selain untuk ngalap berkah siapa tahu mendapatkan oleh-oleh sajadah, peci, kurma, kacang arab, kismis atawa air zamzam. Alhamdulillah.

Kemudian pak haji dan bu hajjah yang masih kinyis-kinyis itu bercerita pengalamannya. Jika ditarik benang merahnya, cerita mereka mengandung makna becik ketitik ala ketara. Perbuatan baik dicatat (dengan baik), sedangkan perbuatan tercela (akan) terlihat/terbuka.

Itulah keajaiban di Tanah Haram. Sebab-akibat bisa dilihat dan dirasakan. Seringnya secara kontan. Kadang penawarnya sangat sederhana: istighfar.

~oOo~

Ketika melaksanakan tawaf seorang nenek (sepertinya dari bangsa Bangladesh) menghampiriku, lalu mengkaitkan tangannya ke tanganku. Rupanya ia minta dituntun mengelilingi Kabah. Aku turuti keinginan nenek itu. Pada putaran keempat di sekitaran Hajar Aswad tangan nenek itu terlepas dan ia berbawa oleh arus ribuan orang yang tawaf. Kami bertemu kembali ketika melewati Hijr Ismail. Tangan nenek itu aku genggam erat hingga selesai melakukan putaran ketujuh. Kemudian aku melaksanakan shalat sunnah dua rakaat selepas tawaf, sesudahnya tiba-tiba aku merindukan wajah ibuku di tanah air. Tak tahan akan kerinduan kepadanya, aku menangis. Lama sekali aku tak menyentuh tangan ibu, apalagi menggandengnya berkeliling Kabah. Aku memanjatkan doa, supaya diberi kemudahan membawa ibu ke Tanah Haram.

Tahun berikutnya, aku, suami dan ibu pergi umrah. Bahagianya hatiku ketika aku menggandeng tangan ibu (dan menyentuhkannya ke dinding Kabah atawa ke Maqam Ibrahim) ketika melakukan tawaf. Sepanjang perjalanan dari hotel ke masjid tak lepas tanganku menggandeng tangan ibu. Saban hari. Lima waktu shalat.

~oOo~

Jarak maktabĀ (tempat tinggal jamaah haji) ke Masjidil Haram berkisar 1,5 km. Mereka lebih memilih jalan kaki dari pada naik angkot. Jarak 1,5 km ke arah masjid, lurus saja. Di antara jamaah haji memang ada yang sok paham jalanan Kota Mekkah. Dari mulutnya terlontar kalimat kesombongan semacam “aku bisa pulang sendiri, kalian duluan pulang deh, wong jalanan lurus aja kok!“, ketika diajak bersama-sama pulang ke maktab oleh teman-temannya.

Apa yang terjadi kemudian? Ia kebingungan menentukan ke mana arah pulang. Ia berputar-putar hampir tiga jam lamanya. Ajaibnya, sudah beberapa kali ia melewati maktabnya namun ia tiada melihatnya. Belakangan ia baru ingat telah berlaku sombong. Dengan beristighfar beberapa kali, berbukalah mata hatinya sehingga memudahkan ia pulang ke maktabnya.

~oOo~

Itulah sebagian kecil pengalaman jamaah haji di Tanah Haram sana.

Note: Tulisan ini untuk menyemarakkan Gerakan 30 Hari Menulis (G30HM). Minggu 2: #6

(Visited 1 times, 1 visits today)