Asmarandana untuk Arjuna

Kisah di bawah ini sebagai lanjutan dari lakon Aku Bisa Mengintip Fesbukmu.

Sesungguhnya hati Sembadra bimbang, dengan semua bukti yang kini ada di tangannya. Apakah dengan menunjukkan bukti kepada Arjuna, kalau rumah tangga Duryodana-Banowati baik-baik saja bahkan bisa dikatakan sangat harmonis, suaminya itu akan serta-merta menjauhi Banowati atau malah sebaliknya akan menghancurkan rumah tangga Raja Hastinapura itu?

Sembadra menimbang-nimbang, kepada siapakah ia ingin bercurhat? Kepada kakak tercintanya, Bathara Kresna-kah? Atau kepada Srikandi, istri Arjuna selain dirinya? Semalaman Sembadara berfikir keras. Akhirnya ia memutuskan untuk menyerahkan persoalan tersebut kepada Kyaine Semar Badranaya.1

***

Gegaraning wong akrami / Dudu bandha dudu rupa / Amung ati pawitane / Luput pisan kena pisan / Yen gampang luwih gampang / Yen angel, angel kalangkung / Tan kena tinumbas arta.2

Kyaine Semar menembangkan sekar macapat asmarandana di hadapan junjungan kinasihnya, Arjuna alias Janaka alias Permadi sambil bersimpuh. Arjuna dengan takzim mendengarkan petuah tersebut.

“Raden, telah datang kepada saya Wara Sembadra sambil berurai air mata. Ia menceritakan kegalauan batinnya mengenai tingkah Raden Permadi yang masih saja merindukan Dewi Banowati istri kesayangan Prabu Duryodana. Menurut pengakuannya, Wara Sembadra kini tengah mengandung jabang bayi calon putra Raden3. Ia ingin perhatian lebih dari Raden Permadi.”

Kyaine Semar membuka percakapan. Arjuna memandang tajam ke arah lelaki bertubuh tambun yang duduk di hadapannya itu. Informasi yang disampaikan Semar telah mengejutkan dirinya.

“Benarkah diajeng Sembadra tengah mengandung, Paman?”

“Demikian yang saya dengar Raden.”

“Aku susah sekali melupakan Banowati, Paman. Aku merasa ia adalah cinta sejati yang aku cari selama ini.”

“Raden sangat sayang kepada Dewi Banowati?”

“Sangat, Paman. Siang dan malam aku selalu merinduinya. Meskipun akhir-akhir ini aku merasa ia menghindariku.”

Kyaine Semar Badranaya mengeluarkan foto-foto yang diserahkan oleh Sembadra tempo hari untuk diperlihatkan kepada Arjuna.

“Mereka pasangan yang sangat serasi, Raden. Ini bukan adegan rekayasa. Menurut pandangan mata batin saya, Dewi Banowati sungguh sangat menyanyangi suaminya. Demikian pula Prabu Duryodana, cinta dan kasih sayangnya sepenuhnya ia berikan hanya kepada istri yang cuma satu-satunya.”

“Jadi aku harus bagaimana, Paman?”

“Biarkan Dewi Banowati bahagia dengan perkawinannya, Raden. Buktikan kalau Raden sayang kepadanya dengan selalu mendoakan agar Dewi Banowati selalu bahagia dengan keluarganya.”

“Tapi sangat berat, Paman.”

“Seperti tembang asmarandana yang tadi saya lantunkan untuk Raden, ada peringatan di sana. Gagal sekali, berhasil juga sekali. Darah ksatria yang Raden miliki tentu akan mencegah niatan Raden memporak-porandakan maghligai rumah tangga Prabu Duryodana, bukan? Coba Raden ingat-ingat, pernahkah selama ini Prabu Duryodana menyakiti hati Raden? Belum pernah, bukan?”

“Iya, sih. Bahkan menurutku, ia lelaki yang sangat baik bagi keluarganya. Cintanya sepenuhnya untuk Banowati, tiada terbagi bagi perempuan lain. Meskipun sebetulnya ia mampu untuk itu.”

Arjuna memandangi satu demi satu foto yang diam-diam dikumpulkan oleh Sembadra. Arjuna dalam hati sepakat kalau Banowati sangat bahagia hidup bersama Duryodana, beserta kedua anak mereka Lesmana Mandrakumara dan Lesmanawati. Ada rasa cemburu di sana.

“Raden cemburu?”

Arjuna tersentak kaget, tak mengira kalau Semar sedang membaca suasana hatinya. Lalu, untuk menutupi rasa terkejutnya itu, Arjuna tersenyum.

“Sedikit cemburu, Paman. Banyak rindunya. Aku perlu waktu untuk melupakan Banowati.”

“O, tidak mungkin Raden melupakan Dewi Banowati. Raden cukup belajar menurunkan tensi ego, pelan tapi pasti Raden kudu menerima kenyataan bahwa Prabu Duryodana berhak atas penyerahan cinta sejati yang diberikan Banowati. Cinta tanpa nafsu lagi, sebab cinta telah melebur menjadi kasih sayang. Orang wastika sering bilang yang dikagumi terkadang tidak mengerti, yang dirindukan terkadang tidak tahu, yang dicintai terkadang tidak merasa, yang diinginkan terkadang tidak sejalan, dan yang tidak disangka terkadang terjadi. Itulah kehidupan, Raden.”

Kyaine Semar memberikan petuah kepada Arjuna hingga semalam suntuk.

Apakah api cinta Arjuna ke Banowati langsung padam?

Catatan kaki:
1Dalam pewayangan, tokoh Semar Badranaya didapuk sebagai pengasuh sekaligus penasihat para ksatria.Tokoh ini merupakan asli ciptaan pujangga Jawa.
2Tembang asmarandana karya R. Ng. Yasadipura yang terjemahan bebasnya: modal orang membangun rumah tangga, bukan harta bukan rupa, hanya hati bekalnya. Gagal sekali, berhasil juga sekali. Jika mudah maka terasa sangat mudah, jika susah maka terasa sangat susah. Tidak bisa dibeli dengan uang.
3Dari rahim Sembadra lahir Abimanyu yang kelak kemudian hari akan menurunkan Parikesit, pewaris tahta Hastinapura.

(Visited 1 times, 1 visits today)