Anakku Menangis di Hari Ulang Tahunnya

Anakmu bukan milikmu
Mereka adalah putra-putri sang hidup,
yang rindu akan dirinya sendiri
Mereka lahir lewat engkau tapi bukan dari engkau
Mereka ada padamu, tetapi bukan milikmu
Berilah mereka kasih sayang,
namun jangan berikan pemikiranmu
Karena pada mereka ada alam pikiran sendiri
Patut kau berikan rumah bagi raganya,
namun tidak bagi jiwanya
Sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan
yang tiada dapat kau kunjungi,
sekalipun dalam mimpimu
Engkau boleh berusaha menyerupai mereka,
namun tidak boleh membuat mereka menyerupai engkau
Sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur
ataupun tenggelam ke masa lampau
Engkaulah busur tempat anakmu,
anak panah hidup, melesat pergi
(Khalil Gibran)

Suatu senja di food festival Resinda. Di sini salah satu tempat nongkrong favoritku sepulang kantor, untuk menghilangkan penatnya fikiran setelah seharian kerja memeras otak.

Baru saja aku teguk segelas cola dingin, aku jadi teringat kalau anakku memberikan sepucuk surat ketika pagi tadi turun dari mobil di depan sekolahnya. Surat kuambil di locker mobil, aku kembali duduk di kursi, pelan aku buka amplop berwarna pink bergambar Winnie The Pooh yang menggandeng Piglet.

Di bawah temaram lampu, aku baca surat anakku.

Surat untuk Ayah Bundaku, tercinta.

Kemarin hari ulang tahunku, dan sampai saat ini tidak ada tanda-tanda dari kalian berdua mengingat ulang tahunku itu. Bukan hadiah yang aku tunggu, tapi kecupan dan dekapan sayang yang aku harapkan. Barangkali kalian terlalu sibuk dengan urusan kalian masing-masing. Aku tahu, ayah sibuk mengejar karier di kantor sedangkan waktu Bunda banyak terbuang ke sana kemari bertemu teman, arisan atau sekedar bertukar berita gossip selebriti. Hanya kepada diary dan bi Enah aku mengadukan gelisah hatiku.

Aku ingin protes ayah. Buat apa kau bisikkan kalimat azan dan iqamah di telingaku saat kau menyambut kelahiranku, sedangkan sekarang ini aku kau biarkan mendengar suara-suara buruk yang setiap saat bisa menyesatkan langkah kakiku.

Buat apa kau berikan nama yang indah yang katamu bermakna doa dan harapanmu, sedangkan kau tidak pernah membimbing dan mengajariku merangkai kalimat doa.

Bunda, aku rindu belaianmu. Aku ingin mendengar kembali lagu nina bobo yang selalu kau nyanyikan atau dongengmu yang indah saat aku akan mengukir mimpi. Bunda, aku mendamba hangat dadamu ketika aku mengadu, kau memelukku.

Kini, kalian terlalu banyak menuntut padaku. Aku harus selalu mendapatkan ranking di kelasku. Kalian masukkan aku ke sekolah favorit, agar kelak dapat mendapatkan gelar sarjana seperti yang kalian miliki. Kalian memaksaku untuk mengikuti berbagai macam les privat yang sebenarnya aku malas menjalaninya. Aku bukan robot yang bisa kalian program menjadi apa saja : pemain musik, penyanyi, peragawati, atlit renang atau jagoan aritmatika!

Maafkan aku ayah bundaku, bukan maksudku mengajari kalian bagaimana menjadi orang tua yang baik. Kalian tidak pernah memberikan kesempatan padaku untuk membela diri saat aku membuat kesalahan. Kalian bentak aku, ketika aku salah mengancingkan baju seragamku atau ketika terlalu lambat menalikan sepatuku. Bahkan suasana rumah seperti neraka saat aku mendapatkan nilai 5 di pelajaran matematikaku. Aku memerlukan bimbingan kalian. Aku bukan orang dewasa yang berbentuk anak kecil. Fikiranku tidak sama dengan fikiran kalian.

Ayah dan bundaku, aku yakin masih banyak waktu yang kita miliki untuk menjalin kembali tali kasih yang terurai. Tuhan menitipkan aku kepada kalian, agar kelak dapat menjadi penjaga bumi. “Anakmu bukan milikmu, mereka putra-putri kehidupan”.

Aku tutup suratku dengan mengutip sajak Dorothy Nolte untuk kalian renungkan :
jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki
jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi
jika anak dibesarkan dalam penghinaan, ia belajar merendahkan diri
jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri
jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri
jika anak dibesarkan dengan sebaik-baik perlakuan, ia belajar keadilan
jika anak dibesarkan dengan kasih sayang, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan…

Aku tercenung membaca surat anakku ini. Bergegas aku pulang untuk segera menemui anakku untuk memeluknya dan menemani belajarnya malam ini.

___________
Note : Naskah saya ini pernah dimuat di Harian Radar Karawang, terbitan 10-09-05 dengan sedikit suntingan