Alap-alapan Surtikanthi

Semenjak Karna sering berkunjung ke istana Duryudana, Surtikanthi suka mencuri pandang ke arah Karna. Suatu ketika mata keduanya saling beradu. Saling mengagumi satu dengan lainnya. Ada rasa gengsi untuk memperkenalkan diri, meskipun diam-diam Karna mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang Surtikanthi. Demikian pula dengan Surtikanthi, ia sering bertanya kepada Duryudana – adik iparnya, siapa itu Karna, kenapa sudah lama Karna tidak berkunjung ke Hastinapura dan seterusnya.

Melihat gelagat itu, Duryudana pun memperkenalkan keduanya di suatu acara makan siang. Karna dan Surtikanthi bertukar nomor ponsel, dan sejak saat itu mereka menjadi boros pulsa, karena satu jam sekali mereka saling memberi kabar, saling mengucapkan cinta dan rindu. Ya, mereka mempunyai rindu yang tidak ada habis-habisnya.

[Kyaine dalam lakon Surtikanthi, Awal Perjumpaan Seri 4]

Surtikanthi adalah anak kedua Prabu Salya dan Pujawati, dari lima bersaudara. Kakaknya bernama Dewi Erawati, sementara adik-adiknya bernama Dewi Banowati, Arya Burisrawa dan Bambang Rukmarata.

Syahdan, Surtikanthi diminta pulang ke Mandaraka oleh ayahnya untuk menemani Pujawati, ibunya. Berat nian hati Kanthi meninggalkan Hastinapura yang berarti pula meninggalkan Karna, kekasih hatinya. Saat itu, Prabu Salya belum tahu ada hubungan asmara antara Kanthi dan Karna. Demi ibunya, Kanthi kembali ke rumah dengan membawa beban rindu yang amat banyak di dalam dadanya.

Sebagai seorang ibu, Pujawati paham betul kegelisahan yang sedang menimpa anak gadisnya itu.  Pujawati mencoba bertanya kepada Kanthi, namun ia lebih memilih bungkam. Ia sangat takut ibunya tak menyetujui hubungan asmaranya dengan anak kusir kereta, sementara ia adalah putri seorang raja.

Diam-diam ia mengirim pesan kepada Karna untuk datang menemuinya secara rahasia. Hmm, tentu saja hati Karna bergolak, sebab sakit rindunya segera terobati begitu bertemu dengan Kanthi, pujaan hatinya itu. Kanthi yang ditempatkan pada salah satu puri keputren, dengan mudah dijangkau oleh Suryaputra, nama lain Karna. Ah, namanya anak muda. Begitu bertemu mereka sering lengah, hingga kepergok oleh emban atawa prajurit penjaga keputren. Satu-dua kali dalam penyusupannya, Suryaputra masih aman keluar dari keputren.

Teliksandi Mandaraka mulai sering melakukan operasi di sekitar keputren tempat tinggal Kanthi. Setelah data yang didapatkan cukup, prajurit teliksandi itu melaporkan kepada Prabu Salya.

“Oh, jadi ada penyusup masuk ke kamar anak gadisku?” tanya Prabu Salya. “Kalian tahu siapa pemuda yang bernyali itu?”

Prajurit teliksandi itu menggelengkan kepala, “Belum yakin betul siapa pemuda itu, Baginda. Kalau nggak salah….. ” ucapnya menggantung kalimat.

“Permadi, Baginda!” tegas prajurit teliksandi.

“Permadi alias Arjuna? Kanthi mau dijadikan istri ke berapanya tuh. Aku nggak rela!” tanya Prabu Salya nggak begitu yakin.

Maka disusunlah suatu rencana, di mana Prabu Salya sendiri yang akan mengintai kunjungan rahasia seorang pemuda ke keputren.

Dan betul saja, dalam pengintaiannya dengan mata kepala sendiri ia mendapati seorang pemuda yang sangat mirip dengan Permadi telah masuk keputren. Namun, Prabu Slaya kecolongan saat mau menangkap Karna, yang wajahnya memang sangat mirip dengan Arjuna.

Prabu Salya bertindak gegabah. Ia segera melabrak Arjuna. Tak rela anaknya kawin dengan playboy. Arjuna bersumpah, bukan ia yang memasuki keputren dan berjanji membantu Prabu Salya menangkap orang yang wajahnya mirip dengannya.

Tak sulit bagi Arjuan menemukan Karna. Keduanya terkejut setelah sadar mempunyai wajah yang serupa. Mereka perang tanding. Pelipis Karna terluka1. Ketika perkelahian semakin seru, datanglah Bathara Narada memisahkan mereka dan mengatakan kalau keduanya bersaudara2.

“Karna, kamu tak perlu lagi datang secara sembunyi menemui anakku. Besok datanglah bersama orang tuamu, untuk melamar Surtikanthi menjadi istrimu!” titah Prabu Salya kepada Karna yang disaksikan oleh Bathara Narada.

Kanthi, indah pada waktunya.

Catatan kaki:
1 Untuk menutupi luka di pelipis Karna, Bathara Narada memberikan sebuah mahkota dan sejak saat itu Karna selalu bermahkota. Ternyata, mahkota tersebut salah satu sumber kesaktian anak Kunti dengan Bathara Surya itu.
2 Dalam kisah yang lain diceritakan, gara-gara mengetahui kalau Karna itu saudaranya, Arjuna membantu Karna bertempur melawan Karnamandra, raja Awangga. Setelah Karna menjadi raja Awangga, oleh Prabu Salya ia dikawinkan dengan Surtikanthi. Kelak mereka berputra dua yakni Warsasena dan Warsakusuma.