76 | Ketika ibu tanpa bapak

Hari ini hari ulang tahun ibu. Kurang dari sebulan lalu, bapak berangkat duluan menghadap-Nya. Meskipun selalu tanpa perayaan apapun, ulang tahunnya kali ini tanpa ada bapak yang menyertainya. Mereka hidup bersama lebih dari 50 tahun, 53 tahun 7 bulan tepatnya.

***

Usia bapak 84 tahun, masih aktif beraktifitas seperti beres-beres rumah, nongkrong di pos ronda, ke masjid atau ambil uang pensiun setiap bulan ke kantor pos. Pada jumat manis, bapak pergi jumatan. Terus makan siang. Sekitar jam 14.30 naik sepeda ke apotik membelikan obat untuk ibu.

Air hangat sudah ibu sediakan untuk mandi sore bapak. Di dapur ibu sibuk memasak untuk makan malam. Ibu selesai memasak dan mencari bapak, karena kamar mandi tiada bersuara lagi. Di kamar tidak ada, di luar rumah pun tidak ada.

Ibu membuka pintu kamar mandi dan mendapati bapak terduduk lemas di lantai kamar mandi. Seorang dokter yang tinggal tak jauh dari rumah memastikan kalau bapak telah pergi sekitar 15 menitan sebelumnya.

Sekitar jam 16.30 kabar kepergian bapak sampai kepada anak-anaknya.  Di masa Pandemi COVID-19, ketika transport udara dan KA sulit untuk dipenuhi protokol kesehatannya, tol Trans Jawa memudahkan kami tiba di Karanganyar kurang dari 6 jam dengan naik kendaraan sendiri.

***

Selama tujuh hari temani ibu paska ditinggal bapak, saya mengamati kebiasaan masih seperti ketika bapak ada. Ia selalu menengok kamar bapak lalu bergumam: o iya, wis ora ana.

Pulang dari Kantor Pos wajah ibu sumringah. Ini untuk pertama kalinya ia menikmati uang pensiun bapak. Ia bercerita kalau pagi-pagi sekali sudah mengantri di loket, persis di tanggal 1 Juli. Sebelumnya saya sudah bilang ke ibu, ambil gaji pensiun bapak tidak perlu di tanggal satu, supaya tidak antri. Ia menjawab kalau ingin merasakan bagaimana mengantri ambil gaji pensiun. Cukup bulan ini saja, katanya. Bulan depan diambil sesempatnya waktu. Kelak di bulan kelima, ketika ia menerima gaji pensiun janda, akan ditransfer langsung ke rekeningnya.

Kegiatan ibu sehari-hari, saya kira masih sama saja. Mengurus rumah, hanya kali ini tanpa didampingi bapak. Sehingga memasak pun hanya untuk dirinya sendiri.