73 | ibu

Semenjak mBah Wedok meninggal beberapa tahun lalu, pusat kegiatan kumpul-kumpul keluarga besar di hari pertama lebaran dilakukan di rumah ibu. Ya, ibu merupakan anak mbarep dari lima bersaudara. Saya merasa lebaran tahun ini perasaan ibu lebih bahagia sebab semua berkumpul di rumahnya: adik-ipar, anak-menantu, keponakan dan cucu.

Saya juga melihat ibu lebih sehat. Beberapa kali bertemu dengannya sebelum lebaran hingga kemarin saya tidak mendengar ia mengeluh tentang tubuhnya yang sakit bahkan pagi tadi ketika saya menelponnya ia mengatakan dalam kondisi prima. Alhamdulillah.

Ibu selalu punya obat paling manjur untuk semua sakit yang ia keluhkan: Puyer Bintang Toejoe No. 16. Saya tidak tahu persis mulai kapan ia mengkonsumsi obat spesialis sakit kepala tersebut, tetapi seingat saya ketika saya masih kecil dulu puyer tersebut selalu tersedia di rumah. Barangkali sejak pabriknya berdiri.

***

Tahun lalu ia (bersama bapak) telah melampaui usia emas pernikahan mereka. Jelas tak mudah untuk menuju ke lima puluh tahun, tanpa ada saling pengertian perasaan satu dengan lainnya. Kesabaran ibu seluas samudera, saya kira.

“Sudah malam. Sekarang kalian tidur saja. Nanti ibu yang akan bilang ke bapak,” ujar ibu kepada keempat anak lelakinya, sesaat mereka wadul kalau esok mesti bayar SPP atau BP3.

Bapak yang pendiam memang sering membikin kami keder untuk berbicara kepadanya alih-alih meminta sesuatu langsung kepadanya. Jadi lebih baik meminta lewat ibu. Lagi pula semua toh akan diberesi oleh ibu jika bapak sedang tak mampu memberikannya.

Keadaan ekonomi keluarga yang membuat ibu menjadi seseorang yang pandai mengelola hutang. Gali lubang tutup lubang tetapi tidak sampai terperosok dalam lubang yang telah digalinya itu. Tak segan ia membuka lemari. Selembar-dua kain jarik akan ia bawa ke Pegadaian untuk biaya sekolah anak-anaknya, setelah sepeda dan mesin jahit kesayangannya lebih dahulu menginap di sana.

Atau jika tak ada lagi barang berharga di rumah, ia akan mendatangi para tetangga (sungguh mereka itu orang yang sangat baik hatinya, berulang-kali membantu kesulitan kami). Rasanya ajaib saja.

Nanti tiba-tiba saja sepeda akan kembali ke rumah. Saya tidak paham bagaimana ia mengelola sedikit uang yang diberikan bapak kepadanya. Memang sedikit saja, sesuai dengan gaji PNS golongan paling rendah. Semua itu berlangsung bertahun-tahun hingga anak-anak mentas dan mampu secara ekonomi.

Selamat ulang tahun buk, semoga selalu sehat dengan hati yang bahagia. Eh, selamat milad dan barakallah fii umrik, ding.

Puyer Bintang Toejoe No. 16-nya sudah dinimum buk?