Menangkap Drupada

Lakon ini sebagai sambungan dari Drona Menuntut Balas Budi.

Balairung kerajaan Pancala sangat sepi di hari Sabtu, sebab merupakan hari libur kerajaan. Tak ada pasewakan agung yang diselenggarakan oleh protokol istana. Pada hari Sabtu seperti itulah, raja Drupada bisa berduaan dengan permaisuri tercintanya yang bernama Dyah Gandawati.

Mereka berdua duduk di dekat taman. Mereka sedang menikmati indahnya pagi menjelang siang.

“Diajeng, sudah sepuluh tahun usia perkawinan kita dewata agung belum juga memberikan anugerah momongan kepada kita. Aku kuatir Pancala tidak ada yang mewarisi dari anak keturunan kita. Bagaimana pendapatmu?”

Dyah Gandawati menarik nafas dalam-dalam. Ia bingung harus menjawab apa.

“Mas Sucitra tentu masih ingat usulan saya, bukan?”

“Usulan yang mana diajeng?” lanjutkan baca

Drona menuntut balas budi

Lakon ini sebagai kelanjutkan dari Debat Dua Pangeran.

Semua mata mengarah ke pintu masuk balairung. Dengan langkah-langkah kaki yang sangat mantap, Resi Drona memasuki arena debat. Suasana demikian hening, bahkan ketika seekor lalat terbang kepakan sayapnya terdengar oleh sebagian orang.

“Wahai guru Drona, kenapa engkau menghentikan acara ini dan engkau malah menyebutnya acara yang tidak bermutu?” Resi Bhisma membuka percakapan.

“Apakah kalian semua sudah lupa, bukankah Negeri Hastinapura ini telah mempunyai GBHN yang disusun oleh para pendiri negeri ini?” kata Drona beretorika.

“Maaf guru Drona, apa itu GBHN?” tanya Patih Sengkuni lugu.

“Garis-garis Besar Haluan Negara, Patih Sengkuni!” jawab Drona dengan muka masam.

“Ampun guru Drona, maklum saja kalau saya ndak paham dengan semua singkatan,” kata Sengkuni sambil menangkupkan kedua telapak tangan di dadanya. lanjutkan baca

Debat Dua Pangeran

Sikap gamang Destarasta agak terobati setelah ia menghadap Resi Bhisma, sesepuh Hastinapura. Ia menyampaikan kegalauan hatinya, siapa di antara Yudhistira dan Duryodana yang akan dipilihnya menjadi penggantinya kelak. Menurut pendapat hati nuraninya, Yudhistira yang paling berhak atas tahta Hastinapura setelah kematian Pandu, ayahnya. Sementara, permaisuri Gandari yang disokong oleh Sengkuni sangat berniat mendudukkan Duryodana menjadi raja.

Resi Bhisma memberikan nasihat singkat, “Adakan acara Debat Dua Pangeran, engkau akan mengetahui kedalaman visi dan misi mereka jika kelak mereka menjadi raja Hastinapura. Kalau masalah adu kekuatan ilmu kanuragan biar nanti diurus oleh Mahaguru Drona.”

Terjadi kebocoran informasi kebijakan kerajaan. Dalam tempo yang singkat rencana acara Debat Dua Pangeran dengan cepat menyebar ke seluruh antero negeri. Dan dengan cepat pula terbentuk kelompok-kelompok relawan pendukung Yudhistira atau Duryodana atas inisiatif rakyat Hastinapura. Posko-posko didirikan di mana-mana. Tak jarang terjadi bentrok dua pendukung yang berseberangan. Kampanye hitam yang disertai dengan penyebaran teluh oleh dukun-dukun mulai menyerang satu ke yang lainnya.

Situasi Hastinapura seperti bara dalam sekam. lanjutkan baca