Pernah aku mencoba untuk sembunyi, namun senyummu tetap mengikuti

Biar tersambung, silakan baca dulu artikel: Di hati ini hanya engkau mantan terindah.

Arjuna terdiam beberapa saat. Ia mencoba mengunyah kata-kata yang keluar dari mulut kekasihnya itu.

“Kenapa diam Jun, kamu tak sanggup kah?”

“Eh, bukan. Tapi… “

Kok, grogi Jun. Itu bukan sifat aslimu. Arjuna yang aku kenal adalah lelaki tangguh dan jantan, siap mewujudkan semua permintaan kekasih yang sangat disayanginya.”

“Tapi, bukankah Siti Sundari itu kekasihnya Abimanyu, anakku juga?”

“Iya. Lesmana juga anak kandungmu, bukan? Hampir dua puluh lima tahun kamu tak pernah menyentuh apalagi merawat buah cinta kita itu. Sekarang saatnya kamu menunjukkan kasih sayangmu sebagai seorang ayah!”

Kepala Arjuna ngelu. Permintaan Banowati kali ini sulit ia laksanakan. lanjutkan baca

Sinta dalam gendongan Rahwana

Kelanjutan lakon Terpesona Kecantikan Sinta

Kepergian Rama dan Laksmana yang cukup lama, membuat Sinta gelisah. Berulang kali ia keluar dari tendanya untuk memastikan kalau suaminya itu segera kembali. Namun penantiannya sia-sia belaka. Maka, ia memutuskan menunggu kedatangan mereka di luar tenda.

Sinta dikagetkan oleh kedatangan seekor kijang emas yang berusaha mendekati tendanya. Kijang emas itu seperti menggoda Sinta. Tapi mengapa ia tidak bisa benar-benar mendekati Sinta? Rupanya garis lingkaran yang dibikin oleh Rama merupakan pagar gaib yang tidak bisa ditembus dari luar garis tersebut.

Melihat ada kijang yang demikian jinak, Sinta ingin menyusul Rama untuk memberitahukan kalau di sekitar tenda ada seekor kijang. Rama dan Laksmana tentu tidak perlu jauh-jauh ke dalam hutan untuk berburu. Tapi Sinta segera ingat pesan suaminya untuk tidak keluar dari garis lingkar yang telah dibikin sebelumnya. lanjutkan baca

Terpesona kecantikan Sinta

Sekuelnya Sarpakenaka Merayu Dua Lelaki

Pada waktu Sarpakenaka tiba di paviliun Rahwana, lelaki raksasa itu tengah membersihkan cureg di telinganya dengan bulu burung onta. Matanya merem-melek keenakan oleh kilikan ujung bulu yang mengenai lapisan tipis gendang telinganya.

“Mas Rahwana! Di luar sana ada dua ksatria yang akan mengobrak-abrik istana Alengka. Lihat luka di hidungku ini, mereka telah mengirisnya. Cepatlah bunuh mereka, sebelum mereka masuk ke istanamu!”

Rahwana yang tengah santai tersebut terkejut oleh suara nyaring Sarpakenaka dengan darah kental yang memboreh wajah adiknya itu. Serta merta ia bangkit dan menelisik lebih dalam lagi kalimat yang muncul dari mulut Sarpakenaka. lanjutkan baca