80 | Sapardi

Nyuwun sewu pak, kula kesupen menawi kala wingi dinten tanggap warsa panjenengan. Maaf pak, saya lupa kalau kemarin tanggal kelahiran bapak. Selalu sunyi ya pak, tanpa ucapan selamat apalagi perayaan ulang tahun meskipun sekedar menyajikan sepotong kue tart ditancapi lilin menyala.

Saya sih selalu mendoakan bapak – dan juga ibu, tentu saja – sehabis shalat saya agar kalian selalu diberi anugerah kesehatan. Dari obrolan singkat kita di awal bulan, bapak sedang masuk angin. Dan kalau sudah dikeroki sama ibu dan minum puyer bintang tujuh nomer enam belas – obat kebanggaan keluarga kita – serta istirahat tidur beberapa jam bapak sudah segar kembali.

Kemarin ibu cerita kalau jas hujan yang biasa bapak pakai sudah sobek di sana-sini. Kalau pun dipakai ya tetap saja bikin basah kuyub. Mungkin itu yang menyebabkan bapak masuk angin.

Pak, jas hujan yang saya kirim kemarin sudah dicoba belum? Dijamin nyaman dipakai dan awet pak. Wong saya pilihkan yang kualitet terjamin mutunya, he..he..he..

Menjadi keinginan kami, seperti kekuatiran anak kepada bapaknya yang sudah sepuh, kalau naik sepeda atau motor jangan jauh-jauh. Kalau pergi boncengan berdua dengan ibu menghadiri pengajian alumni kelompok haji atau antar ibu ke pasar sih oke-oke saja tapi ya tetap mesti waspada nggih pak.

Saya ingat kata Kika waktu bapak mengantar ke Stasiun Balapan (sempat dihadang hujan di jalan) beberapa waktu lalu ketika ia dolan ke Karanganyar: mBah Kung masih tangguh mengendarai motor.

Matur nuwun loh pak, di usia ke 80 bapak masih setia menemani kami, anak-anakmu. Dalam ke-pendiam-an bapak, kami yakin bapak tak pernah lepas dari doa restu yang sewaktu-waktu dapat kami gunakan sebagai jimat di dalam kehidupan kami.

Bapak pasti berasa muda terus sebab hingga saat ini ibu selalu memanggil bapak dengan sebutan mas. Pokoknya jaga kesehatan bapak. Kurangi terus jumlah rokok yang bapak isap setiap harinya.

Sampai ketemu di akhir bulan depan pak. Saya lihat kalender kok ada libur panjang di akhir pekan. Sapardi selalu di hati.