79 | Sapardi

Nama bapak saya hanya satu kata: Sapardi. Setelah ia menikahi ibu saya, oleh mbahkung (bapaknya ibu saya) ditambahi nama tua Padmowiyoto. Namanya selalu salah dieja oleh guru saya sejak SD dengan Supardi. Nama yang salah ini tertera di buku rapor SD saya, bahkan di Ijazah SD. Untuk menghindari kesulitan di kemudian hari, saya lapor kepada wali kelas 6 supaya ejaan nama bapak saya direvisi.

Waktu itu saya belum punya akta kelahiran, sehingga sebagai bukti kalau nama bapak saya itu Sapardi, bukan Supardi saya menunjukkan KTP bapak saya. Wali kelas 6 kemudian mengganti dengan ijazah yang baru. Ketika di SMP dan SMA, kesalahan terulang kembali. Nama bapak ditulis Supardi. Untungnya, kesalahan hanya ada di buku rapor tidak terulang di ijazah.

Iseng-iseng saya pernah bertanya kepada bapak saya, apakah bapak lahir di bulan Sapar? Ia menjawab bukan. Seingatnya ia lahir di bulan Bakda Mulud/Jumadil Awwal. Saya mau bertanya kepada mbahkung atau mbah uti dari garis bapak, keduanya sudah meninggal ketika saya masih piyik.

Menurut saya, nama Sapardi lebih keren daripada Supardi. Nama Sapardi juga jarang dipunyai orang lain. Sependek pengetahuan saya ada 3 (tiga) orang yang menggunakan nama Sapardi. Hal ini pernah saya tulis di sini.

Di lingkungan keluarganya, bapak sering dipanggil hanya dengan “Di” saja. Adik-adiknya memanggil Mas Di – ibu saya juga memanggilnya demikian, keponakan dari kakak-kakaknya memanggilnya Lik Di, tetapi ia akan dipanggil dengan nama lengkap untuk Pakde Sapardi dan Mbah Sapardi.

Hari ini ia genap berusia 79 tahun dan bisa jadi ia lupa atau tidak ngeh dengan hari kelahirannya. Jika melihat almanak 2015, hari ini tanggalnya unik sebab bulan, hari dan pasarannya (weton) sama persis dengan almanak 1936, tahun di mana bapak saya dilahirkan.

24 Februari –┬áSelasa Wage tanggal 5 Jumadil Awwal

Semoga Gusti Allah selalu menganugerahkan kesehatan dan keberkahan umur bagi bapak. Amiin.