Tiada hari tanpa Justin Bieber (JB). Inilah perilaku anak gadis saya belakangan ini. Majalah remaja yang memuat profilnya, akan ia beli. Wallpaper di PC-nya pun bergambar JB. Lagu-lagu JB tidak henti ia dengarkan, bahkan lagu di dua albumnya ia hapal di luar kepala. Rekaman pentasnya, ia download di YouTube, lalu petikan gitar JB ia pelajari kemudian ia mulai jrang-jreng main gitar di kamarnya sambil berdendang syair lagu JB. Ya, anak saya lagi gandrung kepada sang idola.
Siapa sih JB ini? Dari beberapa referensi yang saya baca, JB ini sedang jadi idola ABG dunia. Kekuatan JB yang disebut-sebut memiliki suara manis itu sudah tampak sebelum ia membuat album My Worlds. Ketika berumur 12 tahun (kini 16 tahun), JB mengikuti kontes menyanyi lokal, lalu sang ibu mengirimkan video JB ke jejaring YouTube. Hasilnya, video itu ditonton 50 juta orang. Salah satunya adalah seorang manajer bernama Scooter Braun dari manajemen Scooter Braun Project yang kemudian ikut menggarap album JB, My World. Itulah rangkaian jalan JB menuju popularitas awal.
Lagu cinta remaja tentu saja menjadi jualan utama JB dan ia bisa menulisnya dengan baik, seperti pada ”One Less Lonely Girl”. Liriknya mempunyai hook yang cukup merayu, ”Saw so many pretty faces before I saw you/ Now all I see is you…” (syairnya bener gini nggak Kik?). Ia juga membawakan lagu ”Love Me” yang di dalamnya terkandung lagu ”Lovefool” yang pernah dipopulerkan The Cardigans, grup Swedia yang terkenal di Indonesia pada pertengahan 1990-an. Penulis kedua lagu tersebut memang sama, yaitu personel The Cardigans Peter Swensson dan Nina Persson. JB juga bicara tentang perasaan remaja yang tumbuh dalam keluarga yang orangtuanya bercerai dalam ”Where are You Now”. Liriknya yang agak sendu menggambarkan suasana batin anak yang kehilangan sandaran kasih dan bimbingan, ”When I need you the most/ Why don’t you take my hand/ I want to be close”. Namun, JB bukan tipe penyanyi yang mengiba-iba dan menjual rasa iba. Ia adalah remaja gembira seperti layaknya remaja dalam belantika musik pop.
Ketika saya duduk di kelas 3 SMP saya pun pernah gandrung idola. Waktu itu saya suka John Lennon, apalagi setelah ia tewas ditembak penggemarnya. Kemudian ikut-ikutan teman mengoleksi kaset dan poster-poster Queen, The Police, Deep Purple, Scorpions atawa ABBA. Meskipun waktu itu hapal lagu-lagu Queen seperti Bohemian Rhapsody atawa Mustafa Ibrahim, Synchronicity-nya The Police, When smoke is going down-nya Scorpions dan saya nggak ngerti apa arti syairnya, tapi saya suka saja.
Apakah Anda pernah atawa sedang gandrung idola?