Peristiwa di padang Kurusetra setahun sebelumnya.
Pada hari kesembilan, pasukan Pandawa terdesak oleh pasukan Kurawa di bawah komando Resi Bisma. Ratusan prajurit Pandawa tewas oleh amukan Resi Bisma. Pihak Pandawa gelisah dan prihatin atas keadaan hari itu. Harjuno, nama lain Arjuna yang sering dipanggil Mas No itu mencoba turun ke gelanggang peperangan. Lumayan, pasukan Pandawa bisa menahan serangan Kurawa. Senja hari, perang diistirahatkan. Pandawa memanfaatkan waktu istirahatnya untuk membahas taktik dan strategi mengatasi kekacauan di Kurusetra. Kresna bilang bahwa selama Resi Bisma masih jadi komandan Kurawa, Pandawa akan kalah. Bisma ditakdirkan tidak bisa dikalahkan oleh prajurit laki-laki betapapun saktinya prajurit itu.
Rapat malam itu memutuskan bahwa Resi Bisma harus dilawan oleh mBak Sri, nama beken Srikandi. Tetapi, mBak Sri maju tidak sendirian, tetapi harus didampingi oleh Mas No. Untuk mempersenjatai diri, disiapkanlah panah sakti mandraguna yang harganya mencapai enam koma tujuh triliyun mata uang Negeri Bharata. Mau tidak mau harus mempergunakan senjata panah semahal itu, supaya tidak berdampak secara sistemik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Hastinapura.
Keesokan harinya, betapa terkejutnya Resi Bisma melihat mBak Sri berhadapan dengannya. Di angkasa langit biru, Resi Bisma menyaksikan sukma Dewi Amba masuk ke dalam raga mBak Sri. Oh iya, supaya pembaca tidak bingung, Resi Bisma dulu pernah menyakiti hati Dewi Amba. Kini, saatnya Dewi Amba melunaskan sumpah untuk membunuh Resi Bisma.
Resi Bisma dan mBak Sri bertempur hebat. Akhir perang tanding itu Resi Bisma roboh oleh sebuah anak panah milik mBak Sri yang menancap di dadanya, tidak lama kemudian disusul panah milik Mas No, yang ajaibnya mendorong panah mBak Sri sebelumnya, hingga tembus ke punggung Resi Bisma. Menyusul anak panah berikutnya, begitu seterusnya sampai tubuh Resi Bisma penuh dengan anak panah. Tubuh Resi Bisma tidak menyentuh tanah, karena ditopang oleh ratusan anak panah.
Suasana padang Kurusetra mendadak hening. Perang seketika berhenti. Pandawa dan Kurawa sangat menghormati Resi Bisma, seorang pahlawan agung yang telah banyak jasanya pada keturunan Bharata. Dalam kesakitan yang sangat Resi Bisma masih bisa tersenyum karena telah memenuhi darma baktinya.
Hari ini.
Di salah satu bilik Komisi Pemulihan Perang Kurusetra (KPPK), terjadi rapat dengan suasana panas. Setelah KPPK mempelajari data yang ada, disinyalir ada bau penilepan uang saat pengadaan senjata panah pada perang di padang Kurusetra setahun lalu yang dilakukan oleh Mas No dan mBak Sri. KPPK bersepakat untuk memeriksa Mas No dan mBak Sri.
“Kapan mereka akan kita periksa?” tanya Ketua KPPK.
“Bagaimana kalau Kamis Pahing ini?” usul salah seorang wakil Ketua.
Rupanya dinding bilik KPPK punya telinga. Rapat belum juga usai terdengar derap kuda di halaman gedung KPPK, datang seorang punggawa istana Hastinapura.
“Kalian boleh memeriksa Mas No dan mBak Sri, tetapi tidak berhak mengundang ke sini. Kalian yang harus datang ke Kraton mereka!” kalimat punggawa istana itu terdengar mengancam. “Awas kalau kalian membangkang, bisa-bisa kasus kalian akan kami proses kembali!” kata punggawa istana sambil berjalan menuju kudanya.
“Kok begitu?” tanya Ketua KPPK.
“Karena beliau berdua kerabat istana!” tukas sang punggawa, begitu jumawa.
