Pulang kantor kemarin, amplop coklat dengan kop “Harian Kompas” di meja tamu menarik perhatian saya. Sudah terbuka. Ya, surat itu bukan ditujukan kepada saya tapi kepada Kika.
“Naskahku nggak dimuat!” kata Kika mengagetkan saya.
“Emang kamu ngirim naskah apa sih?” tanya saya sambil meloloskan lipatan kertas dari amplopnya.
Saya mulai membaca isinya. Di sana Redaksi Kompas memberikan alasan kenapa naskah Kika tidak layak muat. Oh iya, Kika mengirimkan naskah cerita anak untuk Kompas Minggu.
“Kamu hebat!” puji saya, sambil mengusap rambutnya.
“Ye.. nggak dimuat kok hebat,” protesnya.
“Tepatnya, kamu berani. Mengirim naskah ke Kompas perlu nyali. Pap dulu pernah cerita bukan? Kalau Pap baru berani kirim naskah ke Kompas waktu kuliah. Dan kamu, klas 3 SMP sudah berani mengetuk pintu Redaksinya!” kata saya.
“Dan ditolak mulu…” tukasnya sambil nyengir.
Kika benar, belasan atau mungkin puluhan kali naskah saya ditolak Kompas. Dan meskipun waktu mengirim naskah tidak melampirkan perangko balasan, Kompas bersedia mengembalikan naskah dengan disertai beberapa catatan alasan tidak dimuatnya naskah tersebut. Sekali-sekalinya saya pernah nembus meja Redaksinya, itu terjadi di tahun 90-an lalu.
“Jadi jangan putus asa. Di sini, Kompas bilang tulisanmu dianggap terlalu dewasa dan terlalu panjang. Ntar Pap baca naskahmu, terus kita diskusikan,” kata saya kemudian.
Dalam menulis di media massa, saya akui bahwa tulisan Kika “lebih dulu” dimuat dari pada saya. Sejak klas 1 SMP dulu, beberapa tulisannya dimuat di majalah Kreatif (Gramedia Group) dan ia sudah mendapatkan honor untuk tulisannya itu. Sementara, saya baru “berurusan” dengan media massa ketika duduk di bangku SMA.
Selain surat dari Kompas tadi, di meja tamu ada paket terbungkus kertas coklat yang ditujukan kepada saya. Ketika saya buka, ternyata kiriman 3 buku Pramoedya Ananta Toer “Panggil Aku Kartini Saja (PAKS)” dari sebuah toko buku on line langganan saya.
“Buku itu yang untuk hadiah pembaca Padeblogan, ya?” tanya Kika.
“Yo’i. Kamu sudah baca artikel Seandainya Kartini Punya Blog, kan. Nah, buku-buku inilah sebagai cenderamatanya,” saya memberikan penjelasan.
“Dengan menulis Kartini mengguncang dunia, Pap? Kok bisa sih?” tanyanya takjub.
“Ya, kamu pun bisa seperti dia. Kartini dulu menuliskan kepekaan dan keprihatinan atas nasib bangsa ini. Dia menuliskan segala-gala perasaannya yang tertekan itu. Dan hasilnya luar biasa, selain melambungkan nama Kartini, suaranya bisa terdengar jauh sampai negeri Belanda. Menulislah seperti Kartini..,” papar saya.
“Kartini bisa bahasa Belanda?” tanyanya lagi.
“Bisa. Dan ia juga gemar membaca. Dari gemar membaca itulah Kartini mempunyai wawasan yang sangat luas. Sstt.. tahu nggak. Kartini itu sangat sayang dan kagum pada ayahnya loh!” Jawaban dan penjelasan saya membuatnya makin tertarik akan sosok Kartini ini. Saya mengambil buku PAKS di lemari, dan membuka halaman 57 dan membacakan untuknya :
… aku mengarang, melukis, dan melakukan semuanya, karena ayah suka akan hal itu. Aku akan berusaha keras dan berusaha sebaik-baiknya, membuat kebajikan-kebajikan, karena semua itu menyukakan hatinya … (surat tanggal 23 Agustus 1900 kepada Estella Zeehandelaar).
Kemudian di halaman 65, kembali saya membacakan untuknya :
Ia dapat begitu lembut, dan dengan lunaknya mengambil kepalaku pada kedua belah tangannya, begitu hangat dan mesranya tangannya merangkul daku, untuk melindungi aku daripada bencana yang datang menghampiri. Ada aku rasai cintaku yang tiada terbatas kepadanya dan aku menjadi bangga, menjadi berbahagia karenanya. (surat tanggal 25 Mei 1899 kepada Estella Zeehandelaar).
“Ntar buku PAKS-nya aku pinjam ya Pap? Oh ya, sama Bumi Manusia bagusan mana?” tanya Kika.
“Sama-sama bagusnya!” kata saya sambil mengacungkan jempol. Saya pernah ‘mewajibkan’ Kika membaca Tetralogi Pulau Burunya Pram, tapi sepertinya dia baru sekedar ‘membuka-buka’ saja.