Lila yang sedang bertumbuh-kembang

Lila, 10 tahun. Ia anak bungsu saya.

“Pap, besok aku mau main sepeda dengan temen-temenku keliling perum (ia menyebutkan sebuah nama Real Estate yang jaraknya cukup jauh dari rumah), boleh ya?” ia merajuk sambil meringis memperlihatkan gigi depannya.

“Boleh, tapi ada syaratnya!” jawab saya, “Cium pipi Pap dulu. Boleh yang kiri, boleh yang kanan.” Saya sorongkan wajah saya mendekati wajahnya.

“Nggak mau!!!” Ia menghindar. Barangkali ia malu dan memang saya hanya menggodanya saja.

“Ya sudah. Pap merem deh. OK?” Saya mencoba bernegosiasi dengannya. Saya pun memejamkan mata, berusaha tidak memicingkan mata untuk melirik apa yang akan ia lakukan.

Sedetik.. lima detik.. belum ada reaksi. Ketika saya hampir membuka mata, sebuah ciuman mendarat di pipi kanan saya.

“Moahhh….!!!” teriaknya. Disambung dengan tertawa riangnya. Ah, ternyata ia menciumkan boneka macannya ke pipi saya tadi.

Seingat saya, semenjak ia masuk SD ia tidak mau saya cium lagi. Selain itu, sejak kelas 1 dulu ia sudah mandiri – mandi sendiri, malu dimandikan ayahnya.

Saya punya beberapa panggilan untuknya: Lil, atawa Gi atawa Giz.

“Bu guru kalau panggil kamu bagaimana, Lil?” tanya saya.

“Ada yang Lila, ada yang Gizella,” jawabnya.

“Kalau temen-temen kamu, pasti aneh-aneh deh,” saya mencoba menebak.

“Temen-temen dari TK dulu manggil Lila, ada juga dengan Git, ada juga manggil Gijela..” katanya sambil tersenyum.

“Yang manggil Godzilla, ada nggak?” pancing saya.

“Nggak ada… malah ada beberapa cowok manggil dengan Mister Limbad!” tukasnya.

“Hah… kok bisa? Emang kamu bisa sulap apa.. kok dipanggil Mister Limbad?!” kata saya kaget.

“Gara-gara rambutku..!!” jawab Lila sambil menggoyangkan kepalanya.

Ya, Lila punya rambut keriting sebahu, bahkan bagian belakang dibiarkan agak sedikit lebih panjang.

“Mau potong rambut aja?” tanya saya.

“Nggak ah, aku suka rambut model gini!” tegasnya.

Di tangan kanannya selalu tersemat semacam karet gelang, konon katanya ia beli dari pedagang di sekolahnya seharga seribu rupiah, karet gelang itu berfungsi sebagai ikat rambutnya di saat-saat ia kegerahan.

Hari-hari belakangan ini ia suka mematut-matut diri di depan cermin. Ia kombinasikan baju dan kaos juga celana panjangnya (seperti kakaknya, ia tidak punya rok selain seragam sekolah). Tumpukan baju di lemarinya lumayan berantakan. Apa pasal?

Ia coba satu per satu pakaian warisan dari kakaknya. Untuk urusan fesyen, saya mengakui kalau Lila lebih peduli dibandingkan kakaknya, ia lebih berani tampil dengan padu-padan aneka model pakaian.

Kali ini, giliran Lila yang sedang tumbuh-kembang untuk menunjukkan jati dirinya.    

This entry was posted in Kika-Lila and tagged . Bookmark the permalink.